Lampung Timur, 22 September 2025 – Rangkaian kegiatan Museum Week & Cultural Exhibition: Pekan Museum Desa Rejoagung kembali menghadirkan acara menarik dengan tajuk “Dongeng Anak & Cerita Rakyat” yang berlangsung pada Senin pagi, 22 September 2025, pukul 08.00–10.00 WIB di Museum Desa Rejoagung, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur.
Acara ini menghadirkan pendongeng Tri Sujarwo
sebagai narasumber utama, dengan Aditya Nurrohman bertindak sebagai
moderator. Kegiatan ini semakin istimewa karena diikuti oleh peserta didik dari
SD Negeri 1 Rejoagung kelas 1 serta TK Pertiwi 4 Rejoagung.
Dalam sesi dongeng, Tri Sujarwo membawakan kisah Sultan
Domas, sebuah legenda yang telah lama beredar di lingkungan masyarakat sekitar
Lampung Timur dan masih hidup dalam ingatan kolektif warga hingga kini. Kisah
ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan gaya tutur yang ekspresif,
intonasi yang dinamis, serta gerak tubuh yang atraktif, Tri Sujarwo mampu
menghadirkan kembali suasana magis dari cerita tersebut.
Untuk membuat cerita semakin menarik, ia menggunakan
boneka sebagai media interaktif. Kehadiran boneka itu membuat anak-anak tidak
hanya mendengar cerita, tetapi juga merasa terlibat langsung dalam alur kisah.
Sesekali ia mengajak anak-anak untuk menirukan dialog atau memberikan pendapat
tentang sikap tokoh, sehingga suasana dongeng menjadi hidup, penuh tawa, dan
sarat pembelajaran.
“Sultan Domas adalah legenda yang hidup di tengah
masyarakat kita. Melalui kisah ini, anak-anak bisa belajar tentang
kepemimpinan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang
diwariskan leluhur,” jelas Tri Sujarwo di hadapan para peserta.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa memperkenalkan cerita
rakyat sejak dini adalah cara efektif untuk menanamkan kecintaan anak-anak pada
budaya lokal. Menurutnya, legenda Sultan Domas bukan hanya kisah masa lalu,
melainkan juga cermin yang relevan dengan kehidupan masa kini, terutama dalam
hal membangun karakter generasi muda.
Kehadiran siswa TK dan SD dalam kegiatan ini sekaligus
menjadi bukti bahwa Museum Desa Rejoagung adalah ruang yang ramah untuk
semua kalangan, termasuk anak-anak. Museum tidak lagi dipandang sekadar
tempat benda kuno disimpan, tetapi juga menjadi ruang belajar kreatif yang
menyenangkan.
Guru pendamping dari SD dan TK juga menyampaikan
apresiasi atas kegiatan ini. Mereka menilai pengalaman langsung belajar di
museum melalui cerita rakyat memberi kesan mendalam bagi anak-anak.
“Anak-anak jadi antusias, mereka tidak hanya mendengar
dongeng tetapi juga bisa merasakan suasana belajar yang berbeda. Ini pengalaman
yang akan mereka ingat lama,” ungkap Dewi guru TK Pertiwi 4 Rejoagung.
Dengan acara ini, Pekan Museum Desa Rejoagung berhasil
memperluas fungsi museum menjadi ruang interaksi lintas generasi. Museum
tidak hanya menjadi milik akademisi atau pegiat sejarah, melainkan juga rumah
belajar bagi anak-anak desa, tempat di mana nilai budaya dapat diwariskan
secara alami dan menyenangkan.
