Generasi Muda Metro Belajar Sejarah Lewat Jejak Cagar Budaya

Metro, 27 September 2025 – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu dan Lampung bersama Kuswono, M.Pd. sebagai penerima hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK), menyelenggarakan kegiatan Kunjungan Cagar Budaya yang melibatkan ratusan siswa-siswi SMA/MA di Kota Metro. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sarasehan dan Kunjungan Cagar Budaya bertema “Menjaga Warisan, Merawat Masa Depan: Menumbuhkan Literasi Cagar Budaya untuk Generasi Muda di Kota Metro.”

Empat cagar budaya yang menjadi destinasi kunjungan kali ini adalah Rumah Dokterswoning Metro, Menara Masjid Taqwa Metro, Klinik Santa Maria Metro, dan Rumah Asisten Wedana Metro. Keempat tempat ini dipilih karena menyimpan nilai sejarah penting, baik dari aspek arsitektur kolonial, perkembangan sosial-keagamaan, maupun perjalanan kota Metro sebagai daerah kolonisasi yang kemudian tumbuh menjadi pusat pendidikan dan budaya di Lampung.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai sekolah, antara lain SMAN 1 Metro, SMAN 2 Metro, SMAN 3 Metro, SMAN 4 Metro, SMAN 5 Metro, SMAN 6 Metro, serta MA Muhammadiyah Metro. Kehadiran siswa dari lintas sekolah ini menunjukkan antusiasme generasi muda dalam mengenal lebih dekat sejarah dan warisan budaya di lingkungannya.

Kegiatan dipandu oleh tim Metro Walking Tour yang terdiri dari Aditya Nurrohman, Dimas Setiawan, Dita Yoga Pangestu, dan Laurensius Jesen Prasetyo. Dengan gaya tutur yang komunikatif, para pemandu tidak hanya menjelaskan sejarah tiap tempat, tetapi juga mengajak peserta untuk melihat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Metro masa kini.

Dalam sambutannya, Kuswono, M.Pd. selaku penerima hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program hibah FPK yang telah memungkinkan kegiatan kunjungan cagar budaya ini terlaksana dengan baik. Ia menegaskan bahwa kegiatan semacam ini memiliki arti strategis karena secara langsung melibatkan generasi muda dalam proses belajar dan mengenal warisan sejarah di daerahnya.

Kuswono menekankan bahwa literasi cagar budaya bukan hanya sebatas melihat bangunan bersejarah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis untuk memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, ketika siswa diberi ruang untuk mengunjungi, berdialog, dan merefleksikan pengalaman mereka, maka proses belajar sejarah akan menjadi lebih kontekstual dan membekas dalam ingatan.

“Warisan budaya bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan hidup masyarakat kita. Setiap dinding, setiap menara, dan setiap sudut situs ini menyimpan cerita perjuangan, kebersamaan, dan nilai kemanusiaan. Melalui kunjungan ini, kita ingin agar siswa tidak hanya mengenal cagar budaya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk melestarikannya,” ujar Kuswono.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah penting untuk menyiapkan generasi muda yang tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Dengan mengenal cagar budaya, para siswa diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan identitas lokal sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air.

“Kalau generasi muda dekat dengan sejarahnya, maka mereka akan lebih bijak menghadapi masa depan. Mereka tidak mudah melupakan jati dirinya sebagai bagian dari bangsa yang besar,” tutupnya.

Para siswa terlihat antusias mengikuti rangkaian kunjungan. Mereka aktif bertanya mengenai fungsi bangunan, tokoh-tokoh yang pernah terlibat, hingga cerita-cerita sejarah yang melatarbelakanginya. Guru pendamping pun mengapresiasi kegiatan ini karena memberi pengalaman belajar langsung di lapangan, sehingga materi sejarah terasa lebih nyata dan membekas.

Setelah rangkaian kunjungan keempat cagar budaya, para siswa diminta untuk melakukan pemaparan kembali atas apa yang sudah mereka dapatkan selama kegiatan. Dalam sesi ini, perwakilan dari setiap sekolah menyampaikan ringkasan sejarah, nilai-nilai yang dipelajari, serta kesan mereka terhadap kunjungan tersebut.

Suasana menjadi semakin interaktif ketika siswa mencoba menghubungkan antara materi sejarah yang biasanya hanya mereka baca di buku dengan pengalaman nyata melihat langsung bangunan bersejarah. Ada yang menyoroti arsitektur khas kolonial di Rumah Dokterswoning, ada pula yang menekankan peran Menara Masjid Taqwa sebagai simbol spiritual dan perjuangan umat, sementara kelompok lain menyoroti nilai sosial kemanusiaan dari Klinik Santa Maria dan fungsi administratif Rumah Asisten Wedana pada masa kolonial.

Seorang peserta menuturkan, “Biasanya kami hanya tahu cagar budaya ini dari foto atau cerita guru. Tapi dengan melihat langsung, kami bisa merasakan bagaimana bangunan ini menyimpan cerita panjang. Rasanya lebih nyata dan mudah dipahami.”

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama, di mana para peserta diajak menyimpulkan pengalaman mereka. Diskusi singkat ini menghasilkan kesadaran baru bahwa melestarikan cagar budaya adalah bagian dari menjaga identitas dan jati diri bangsa.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Cagar Budaya Kota Metro tidak hanya menjadi ajang wisata sejarah, tetapi juga sarana edukasi yang menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya di daerahnya.

Aditya N Rohman

  

Kolom Komentar

Previous Post Next Post