Lampung Timur, 19 September 2025 –
Rangkaian kegiatan Museum Week & Cultural Exhibition: Pekan Museum Desa
Rejoagung Lampung Timur resmi dibuka pada Jumat (19/9). Kegiatan ini
diselenggarakan atas dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII
Bengkulu dan Lampung melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan
(FPK), dengan Adi Setiawan sebagai pelaksana kegiatan sekaligus penerima
hibah fasilitasi.
Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) merupakan
hibah dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan yang bersifat
non-komersial dan tidak digunakan untuk pembangunan fisik, melainkan diarahkan
untuk mendukung pelestarian budaya, meningkatkan kreativitas seni, serta
memperkuat kapasitas pelaku budaya di wilayah kerja BPK Wilayah VII.
Acara pembukaan berlangsung meriah di Museum Desa
Rejoagung, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, dengan dihadiri perwakilan
BPK Wilayah VII, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Timur, Pemerintah Desa
Rejoagung,
Dalam sambutannya, Adi Setiawan menyampaikan rasa syukur
dan apresiasi atas kesempatan yang diberikan melalui program hibah fasilitasi
dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII. Ia menegaskan bahwa kepercayaan
ini merupakan amanah besar yang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan
seremonial, melainkan juga dengan tanggung jawab moral untuk menghadirkan
kembali semangat mencintai sejarah dan budaya di tengah masyarakat.
“Saya bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan
yang diberikan melalui hibah fasilitasi ini. Pekan Museum ini kami hadirkan
bukan hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga sebagai ruang interaksi,
pembelajaran, dan apresiasi budaya. Semoga masyarakat, terutama generasi muda,
semakin mencintai sejarahnya dan menjadikannya pijakan untuk masa depan,” ungkapnya.
Harmoko, Kepala Desa Rejoagung turut menyampaikan
apresiasi dan kebanggaan atas terpilihnya desanya sebagai tuan rumah kegiatan
Pekan Museum. Ia menegaskan bahwa momentum ini bukan hanya menjadi kebanggaan
bagi pemerintah desa, tetapi juga seluruh masyarakat Rejoagung yang ikut
merasakan manfaatnya.
“Kami merasa bangga dan bersyukur karena Desa Rejoagung
dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan Pekan Museum ini. Kegiatan ini memberi
warna baru bagi desa kami, sekaligus menjadi bukti bahwa desa juga bisa menjadi
pusat kebudayaan. Museum desa bukan hanya milik panitia, tetapi milik kita
semua, warga Rejoagung,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keterlibatan
masyarakat dalam kegiatan ini sangat penting. Kehadiran warga, pelajar, dan
pegiat budaya menurutnya menandai bahwa desa memiliki semangat besar untuk
menjaga warisan leluhur.
Dalam sambutannya,
Lion Sagita, S.S. perwakilan BPK Wilayah VII menegaskan bahwa
program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan merupakan bentuk nyata kehadiran negara
dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya. Ia menjelaskan bahwa melalui
hibah fasilitasi ini, pemerintah berupaya membuka ruang bagi masyarakat,
komunitas, dan perseorangan untuk menginisiasi kegiatan yang berakar pada
kearifan lokal sekaligus berdampak nyata bagi kehidupan sosial.
“Museum bukan hanya tempat menyimpan benda sejarah,
melainkan ruang hidup yang menyatukan masyarakat dengan jejak masa lalu.
Melalui Pekan Museum ini, kita berharap masyarakat, terutama generasi muda,
semakin mencintai sejarah sekaligus berkomitmen menjaga kebudayaan daerah,” ujarnya.
Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Roliyanti, perwakilan Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Timur. Dalam sambutannya, ia menekankan
pentingnya integrasi antara museum dan pendidikan sebagai upaya memperkuat
proses belajar mengajar sekaligus menanamkan kesadaran sejarah sejak dini.
Menurutnya, museum bukan sekadar ruang penyimpanan benda-benda kuno, melainkan
laboratorium hidup yang menyediakan pengalaman belajar langsung bagi siswa dan
masyarakat.
“Museum
adalah ruang pendidikan yang sesungguhnya. Di sini semua unsur dapat melihat jejak
sejarah, mendengar kisah nyata dari saksi, bahkan berinteraksi langsung dengan
warisan budaya yang selama ini hanya mereka baca dalam buku pelajaran.
Integrasi museum dengan pendidikan akan membuat proses belajar lebih
kontekstual, menyenangkan, sekaligus bermakna,” ujar Roli saat meresmikan
pembukaan kegiatan.
Ia juga
menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendukung kegiatan semacam ini
karena sejalan dengan program peningkatan literasi budaya dan penguatan
pendidikan karakter. Melalui kegiatan seperti Pekan Museum Desa Rejoagung,
diharapkan para siswa tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga menumbuhkan
rasa bangga terhadap identitas lokal dan kearifan budaya Lampung.Lebih lanjut,
ia memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibatnmulai dari panitia,
pemerintah desa, akademisi, hingga masyarakat yang turut hadir dan
berpartisipasi aktif.
“Kolaborasi
ini adalah kunci. Dengan bergandeng tangan, kita dapat memastikan bahwa warisan
budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diwariskan secara hidup kepada
generasi berikutnya,” pungkasnya.
Pekan Museum Desa Rejoagung
akan berlangsung pada 19–26 September 2025 pukul 08.00–15.00 WIB setiap
harinya, dengan rangkaian kegiatan berupa Pameran Foto Arsip Sejarah, Diskusi
Sejarah Lokal, Temu Pelaku dan Saksi Sejarah, Cerita Rakyat & Dongeng Anak,
serta Bazar Produk Lokal yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Hadir juga dalam pembukaan yakkni Pemerintah Kecamatan
Batanghari, warga Desa Rejoagung, serta siswa-siswi SMP Muhammadiyah Al Ghifari
Batanghari dan SMP Negeri 1 Batanghari. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat
dari warga Desa Rejoagung serta antusiasme siswa-siswi SMP Muhammadiyah Al
Ghifari Batanghari dan SMP Negeri 1 Batanghari yang hadir langsung dalam
pembukaan. Kehadiran generasi muda ini menjadi bukti bahwa museum masih relevan
sebagai ruang belajar, berekspresi, sekaligus merawat ingatan kolektif
masyarakat.
Dengan dibukanya Pekan Museum ini, diharapkan museum
desa tidak hanya menjadi ruang penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga pusat
kegiatan budaya yang hidup dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Aditya N.Rohman