Metro – Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah (UM) Metro kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang penelitian sejarah lokal dan penguatan memori Persyarikatan. Hal ini tampak dari keterlibatan langsung dosen, mahasiswa, dan alumni yang tergabung dalam tim penulis sejarah Rumah Sakit Umum (RSU) Muhammadiyah Metro yang berada di bawah koordinasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro.
Presentasi draf awal penulisan sejarah dilakukan pada
Jumat, 26 Desember 2025 bertempat di Aula Ar Fahrudin RSU Muhammadiyah Metro. Presentasi
awal ini bertujuan untuk menyampaikan perkembangan draf penulisan sejarah RSU Muhammadiyah
Metro, memperoleh masukan dan koreksi dari jajaran direksi, BPH, serta MPKU,
sekaligus memastikan keselarasan narasi sejarah dengan data-data yang ada. Presentasi
ini dihadiri oleh jajaran direksi RSU Muhammadiyah Metro, Badan Pembina Harian
(BPH) RSU Muhammadiyah Metro, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah (PWM) Lampung, serta Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan
Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, Para Tokoh Pendiri RSU Muhammadiyah Metro
dan sesepuh Muhammadiyah Metro. Tim penulis sejarah sendiri dipimpin oleh Imam
Sapi’i selaku Ketua MPI PDM Kota Metro.
Dalam tim tersebut, Prodi Pendidikan Sejarah UM Metro
juga terlibat langsung memegang peran penting sebagai pilar akademik. Dosen
Prodi Pendidikan Sejarah, Kuswono, M.Pd., tidak hanya berperan sebagai
akademisi, tetapi juga merupakan anggota MPI PDM Kota Metro, sehingga
terlibat langsung dalam proses koordinasi kelembagaan, konseptualisasi
penulisan, serta penguatan pendekatan metodologis sejarah. Bersamanya, alumni
Prodi Pendidikan Sejarah, Aditya Nurrohman, serta mahasiswa aktif Shofiyurrahman,
turut serta sebagai peneliti lapangan, pengumpul arsip, dan penulis naskah
sejarah.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kota Metro
sekaligus Ketua Tim Penulis Sejarah RSU Muhammadiyah Metro, Imam Sapi’i,
menegaskan bahwa penyusunan sejarah RSU Muhammadiyah Metro merupakan ikhtiar
strategis Persyarikatan dalam menjaga memori kelembagaan dan memastikan
perjalanan panjang perjuangan rumah sakit terdokumentasi secara baik,
sistematis, dan ilmiah.
“Penulisan sejarah ini adalah ikhtiar untuk mengabadikan
proses panjang perjuangan pendirian RSU Muhammadiyah Metro agar terdokumentasi
secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Imam.
“Keterlibatan dosen, mahasiswa, dan alumni Prodi Pendidikan
Sejarah UM Metro menunjukkan sinergi nyata antara Persyarikatan, amal usaha,
dan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menjaga memori organisasi,” tambahnya.
Shofiyurrahman menyampaikan bahwa Keterlibatan mahasiswa aktif juga memiliki
makna strategis sebagai proses regenerasi intelektual. Melalui proyek ini,
mahasiswa belajar langsung praktik penelitian sejarah, mulai dari pengarsipan,
telaah dokumen, hingga wawancara tokoh.
“Pengalaman ini sangat berharga. Kami belajar bagaimana
sejarah disusun dari sumber-sumber primer dan langsung terlibat dalam kegiatan
besar Persyarikatan. Ini bukan hanya karya ilmiah, tetapi pengabdian,” ujar Shofiyurrahman.
Senada dengan Shofiyurrahman, Kuswono, M.Pd.
mengungkapkan keterlibatan Prodi Pendidikan Sejarah UM Metro meneguhkan posisi
program studi ini sebagai institusi akademik yang tidak hanya menghasilkan
tenaga pendidik, tetapi juga penjaga memori kolektif Persyarikatan dan Amal
Usaha Muhammadiyah. Penulisan sejarah RSU Muhammadiyah Metro dipandang
bukan hanya sebagai kebutuhan dokumentasi, melainkan sebagai bagian penting
dari peradaban dakwah Muhammadiyah di Kota Metro.
“Keterlibatan kami dalam penulisan sejarah RSU
Muhammadiyah Metro adalah wujud tanggung jawab akademik sekaligus moral. Prodi
Pendidikan Sejarah UM Metro tidak hanya mengajarkan teori sejarah, tetapi
memastikan memori perjuangan Persyarikatan terdokumentasi secara ilmiah,” ujar Kuswono, M.Pd., yang juga tercatat sebagai
anggota Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Metro.
Lanjut Aditya Nurrohman memandang bahwa bagi alumni, kegiatan
ini tentu menjadi bukti bahwa lulusan Prodi Pendidikan Sejarah UM Metro
memiliki ruang pengabdian yang luas dalam Persyarikatan. Alumni tidak hanya
ditempatkan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai peneliti, penulis sejarah,
dan penggerak literasi memori organisasi.
“Ini membuktikan bahwa alumni Prodi Pendidikan Sejarah
UM Metro mampu dan dipercaya untuk berkontribusi nyata bagi Muhammadiyah. Kami
tidak hanya belajar sejarah, tetapi ikut menuliskan dan menjaga sejarah itu,” ungkap Aditya Nurrohman yang juga merupakan Anggota
Bidang Pengkajian Ilmu Pengetua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Provinsi
Lampung.
Dalam pemapran tulisannya Aditya menyampaikan menjelaskan
bahwa kehadiran RSU Muhammadiyah Metro merupakan hasil perjalanan historis yang
panjang sejak fase embrional pelayanan kesehatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
pada akhir 1960-an. Dimulai dari Balai Pengobatan Muhammadiyah dan Rumah
Bersalin ‘Aisyiyah, pelayanan kesehatan terus berkembang melalui proses
konsolidasi organisasi, penyesuaian kebijakan, serta penguatan kelembagaan
hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi rumah sakit modern.
Lebih jauh, Aditya menerangkan bahwa perjalanan
pendirian RSU Muhammadiyah Metro juga memiliki dimensi ideologis yang kuat. Ia
mengaitkan sejarah rumah sakit ini dengan teologi Al-Ma’un sebagai spirit dasar
gerakan Muhammadiyah. Baginya, rumah sakit ini adalah wujud nyata implementasi
dakwah bil-hal Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. Kehadirannya menjadi bukti
bahwa ajaran Islam berkemajuan yang diemban Muhammadiyah dapat diterjemahkan ke
dalam institusi pelayanan publik yang profesional, humanis, dan berpihak pada
masyarakat luas.
“Sejarah RSU Muhammadiyah Metro adalah sejarah tentang
proses panjang, kesabaran organisasi, dan komitmen kolektif Persyarikatan dalam
menghadirkan layanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat. Rumah sakit ini
tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui perjalanan bertahap sejak era
Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin hingga berkembang menjadi institusi
pelayanan kesehatan yang modern,” ujar Aditya dalam pemaparannya.
“RSU Muhammadiyah Metro bukan hanya institusi medis,
tetapi merupakan manifestasi dakwah sosial Muhammadiyah yang berakar kuat pada
teologi Al-Ma’un. Rumah sakit ini hadir sebagai bentuk keberpihakan
Muhammadiyah terhadap kemanusiaan, Dengan memahami sejarahnya, kita tidak hanya
melihat rumah sakit sebagai bangunan dan layanan kesehatan, tetapi sebagai
warisan dakwah, komitmen sosial, dan tanggung jawab keumatan yang harus terus
dijaga dan dikembangkan,” tutup Aditya.
Melalui sinergi ini, Prodi Pendidikan Sejarah UM Metro
menegaskan diri sebagai mitra strategis Muhammadiyah dalam dokumentasi sejarah,
pelestarian arsip, serta penguatan tradisi keilmuan Persyarikatan. Penulisan
sejarah RSU Muhammadiyah Metro diharapkan menjadi dokumen historis yang
komprehensif dan bernilai edukatif bagi generasi mendatang.
Dengan demikian, keterlibatan dosen, mahasiswa, dan
alumni Prodi Pendidikan Sejarah UM Metro di bawah koordinasi MPI PDM Kota Metro
bukan hanya bernilai akademik, tetapi juga bernilai ideologis, kultural, dan
dakwah. Ini menjadi bukti bahwa dunia akademik dan gerakan Muhammadiyah dapat
berjalan seiring dalam menjaga memori kolektif dan sejarah perjuangan umat.
Tim Kontributor