Ekonomi Global Menguat, Apakah Kita Siap?

 

Oleh Noval Sahnitri, S,Pd.
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam dan Bendahara Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah Purbolinggo

Dunia sedang mengalami guncangan besar terutama kenaikan ekonomi yang luar biasa. Indonesia perhari ini sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan ekonominya dengan baik, namun kita tidak pernah tau apa yang terjadi berapa detik kemudian nanti. Bahkan, infonya plastik sekarang harganya mahal banget kata pedagang sih, bisa di cek ya. Menurut informasi dari media tempo pertalite dan solar sejak dari 1 April 2026 lalu dibatasi dengan ketentuan tertentu.

Nah kita sebagai warga negara, apa sih sebenarnya yang harus kita lakukan melihat fenomena ini? Apakah sikap kita dalam hal ini memiliki pengaruh besar? Jawabannya bisa jadi iya atau tidak tergantung bagaimana menyikapinya. Kenyataan yang terjadi kita lebih sering menikmati daripada menjadi produsennya. Masing-masinglah ya itu sebenarnya, tapi ini adalah salah satu tantangan yang sedang kita hadapi.

Ekomoni sangat menjadi salah satu hal yang kita temui dalam aktivitas sehari-hari dan memang ketika membahas hal ini cukup runyam. Dari bangun sampai tidur terus bangun lagi pembicaraan ekonomi akan terus bergulat. Karena jika sampai permasalahan ekonomi ini tidak beres, bisa beresiko sekali dalam kehidupan kita.

Nah, dalam islam sendiri didalam Al Quran surah Ar-ruum Ayat 37 diterangkan bahwa Allah Swt berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Q.S. Ar-Ruum : 37)

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, ayat ini menjelaskan bahwa luas dan sempitnya rezeki itu sudah bagian hak dan ketentuan Allah yang mengandung hikmah besar. Rezeki tidak berhenti pada ranah kekayaan materi, melainkan bisa tentang kecerdasan, pemikiran, cita-cita serta kemampuan seseorang dalam meraungi kehidupan.

Buya Hamka juga menggambarkan bahwa ada manusia yang diberikan rezeki yang luas Karena ia bercita-cita besar sehingga mampu menjadi pemimpin, pemikir ataupun tokoh besar. Ada juga yang hidupnya dalam keterbatasan, karena yang cita-citanya dalam hidupnya yang penting bisa makan atau hanya memiliki tujuan hidup yang sederhana. Inilah perbedaan yang ada, apakah ini tidak adil? Menurut Allah Adil karena ini adalag tanda kebesaran-Nya dalam mengatur kehidupan.

Adanya antara kaya dan miskin merupakan buktu bahwa kehidupan dalam dunia diatur oleh Allah Swt secara seimbang. Jika sama-sama miskin atau sebaliknya sama-sama kaya, tidak aka ada dinamika kehidupan, tidak ada perjuangan dan tidak ada yang berusaha untuk berkembang menuju lebih baik.

Maka sejatinya ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam menghadapi dinamika ekonomi, manusia tidak boleh kok santai, pasrah dengan keadaanya. Artinya juga harus tetap berdo’a, berusaha dan bertawakkal. Perbedaan kondisi ekonomi ini harus menjadi ruang strategis bagi kita dengan sesama manusia untuk saling melengkapi, bekerja beras dan yang tak kalah penting juga terus melakukan inovasi dalam memahami dan menjemput rezeki untuk mengaman ekonomi kehidupan sehari-hari.

Kemudian dalam islam juga kita bisa melihat dari sisi kerangka Maqashid Syariah, sikap warga terhadap ekonomi tidak bisa dilepaskan dari tujuan syariat, khususnya Hifzh al-Mal atau menjaga harta. Menjaga harta disini bukan berarti berhenti pada mempertahankan kekayaan. Kita harus memaknai secara lebih mendalam. Mau dalam posisi apapun, entah ekonomi di dunia khususnya di negara Indonesia mau naik atau turun, kita harus bisa mensikapinya dengan baik. Tidak boleh kita malah santai-santai apalagi ikut-ikutan berdasarkan tren, punya keinginan banyak ataupun fomo yang tidak bermanfaat. 

Dengan kecanggihan dan hadirnya sistem ekonomi digital kita juga harus berhati-hati jangan sampai kita terjebak pada praktik yang seharusnya tidak kita lakukan, salah satunya bekerja sama dengan market digital ilegal atau iseng-iseng main link-link yang tersebar

Harta juga harus dikelola dengan secara halal dan bermanfaat untuk diri kita. Jangan sampai juga uangnya lebih banyak didiamkan tanpa kita apa-apakan atau malah foya-foya tidak jelas. Justru yang tersebut harus dikelola untuk digerakkan dalam kegiatan yang positif dan berdampak pada diri kita. 

Selain dari itu juga, harta kita juga harus memiliki nilai secara sosial. Apakah uang yang selama ini kita memiliki sudah kita gunakan untuk menolong orang lain. Dengan kita menolong sesama, sikap ini merupakan perwujudan dari menjadi keseimbangan sosial. Mau kita dalam posisi tidak mampu bahkan mungkin kita malah sebenarnya dikatakan sangat mampu. Maka,seharusnya kita peduli dengan kondisi lingkungan masyarakat kita. 

Harta yang kita raih juga harus memiliki nilai keberkahan. Apakah kita boleh berpikir untuk keuntungan secara kepentingan diri pribadi, tentu boleh, namun jika hanya itu yang kita pikirkan justru juga kurang tepat. Apalagi dalam tantangan ekonomi modern hari ini, kita juga harus memikirkan secara sisi spritual. Supaya harta kita kedepan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan

Maka kita sebagai umat muslim, khususnya sebagai warga negara harus juga turut andil dalam menyikapi kenaikan ekonomi global. Tidak boleh kita hanya sebatas membiarkan saja atau acuh tak acuh. Setidaknya dengan beberapa hal tadi mengingatkan kepada kita bahwa kita harus tetap berpikir secara spritual dan sosial.

Salah satu tokoh islam terkemuka pada masanya yakni, Ibnu Khaldun yang juga memiliki pemahaman konsep ekonomi dalam karyanya yang berjudul Muqaddimah. Menurutnya, peradaban yang baru muncul biasanya memiliki karakteristik sederhana dengan ekonomi yang berbasis agraris dan industri rumah tangga. Pada tahap ini, masyarakat cenderung memiliki etos kerja tinggi karena dipacu oleh kebutuhan bertahan hidup. Seiring dengan perkembangan, mereka mulai membangun industri, meningkatkan produksi, dan menciptakan sistem perdagangan yang lebih kompleks. Namun, setelah mencapai kemakmuran, masyarakat sering kali menjadi konsumtif dan kehilangan semangat kerja keras, yang pada akhirnya menyebabkan stagnasi dan kemunduran ekonomi.

Dari pemaran tersebut, kita bisa melihat sebenarnya seperti apa posisi kita dalam situasi ekonomi saat ini, terlebih lagi dengan keadaan ekonomi globat yang kian menguat.

Oleh karena itu, dengan adanya fenomena penguatan ekonomi global tidak boleh serta merta hanya kita respons sebagai masalah diluaran sana saja. Pada momentum ini, harus memperbaiki cara pandang dan prilaku ekonomi kita. Umat slam tidak bisa hanya tunduk sebagai konsumen biasa tetapi juga bisa menjadi seorang konsumen yang berdaya serta tetap berpegang pada nilai spriritual, sosial dan keberkahan. Inilah bentuk kesiapan sejati yang hakiki dalam menghadapi dinamika persoalan ekonomi global yakni, kesiapan yang tidak hanya kuat secara materi, tetapi juga kokoh secara keimanan.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post