
Diperbarui: April 2026 | Beranda Desa
Nama Metro begitu lekat di telinga masyarakat Lampung. Namun di balik nama yang terdengar sederhana itu, tersimpan sejarah panjang yang tidak banyak diketahui—bahkan oleh warganya sendiri.
Kota ini bukan sekadar wilayah administratif biasa. Ia adalah hasil dari proyek besar kolonial Belanda yang dirancang secara matang sejak awal abad ke-20, dalam program pemindahan penduduk yang dikenal sebagai kolonisasi.
Dari Hutan Adat ke Kota Kolonisasi
Sebelum menjadi kota seperti sekarang, wilayah Metro awalnya merupakan hutan adat milik Buay Nuban. Pada tahun 1932, pemerintah kolonial mulai merancang wilayah ini sebagai bagian dari proyek besar pemindahan penduduk Jawa.
Program tersebut dikenal sebagai Kolonisasi Sukadana yang resmi dibuka tahun 1935, karena berada dalam wilayah Onderafdeeling Sukadana.
Wilayah ini dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil kajian kolonial, daerah ini memiliki potensi lahan pertanian basah hingga ±90.000 bouw—angka yang sangat besar pada masa itu.
Bahkan sejak awal, wilayah ini sudah diproyeksikan menjadi pusat kota baru yang kelak berkembang pesat.
Versi Pertama: Dari “Metropolis” Menjadi Metro
Versi paling kuat tentang asal-usul nama Metro berasal dari kata Metropolis.
Nama ini ditulis langsung oleh Residen Lampung saat itu, Henri Roelof Rookmaker (1933–1937), dalam laporan resmi kolonisasi tahun 1935.
Istilah Metropolis digunakan karena wilayah ini diproyeksikan menjadi kota besar di masa depan.
Bukti pendukungnya tidak hanya satu. Sejumlah surat kabar tahun 1937–1938 juga mencatat perkembangan pesat wilayah Metro sebagai pusat kolonisasi baru yang menarik perhatian.
Beberapa di antaranya:
De Indische courant (1937, 1938)
De Koerier (1937)
Deli courant (1937)
Het nieuws van den dag (1937)
Fakta pentingnya: Nama Metro sudah ada sejak tahun 1935—bahkan sebelum sebagian besar kolonis datang.
Versi Kedua: “Mitro”, Simbol Persaudaraan Kolonis
Versi kedua menyebut bahwa nama Metro berasal dari kata Jawa mitro, yang berarti teman atau kawan.
Makna ini muncul dari kehidupan para kolonis yang datang ke Lampung sejak 1935–1936. Mereka hidup dalam kondisi sulit, membuka hutan, membangun rumah, dan bertahan hidup dengan saling membantu.
Hubungan sosial inilah yang melahirkan istilah mitro.
Surat kabar Deli courant (21 Desember 1937) bahkan mencatat bahwa:
pemerintah menyebutnya Metropolis
tetapi para kolonis menyebutnya mitro
Versi ini kemudian berkembang menjadi identitas sosial yang kuat: Metro sebagai kota kebersamaan dan gotong royong
Versi Ketiga: “Meterm”, Titik Tengah Wilayah
Versi ketiga datang dari penuturan Raja Bastari Wijaya Sinungan, yang menyebut kata Metro berasal dari meterm atau metreum, yang berarti titik pusat wilayah.
Menurut versi ini, Metro berada di tengah antara:
Rancangpurwo (kolonisasi awal 1932)
Trimurjo (kolonisasi utama 1935)
Namun secara ilmiah, versi ini masih lemah.
Penelusuran linguistik menunjukkan bahwa istilah meterm atau metreum lebih dekat ke bahasa Latin (meter), bukan bahasa Belanda.
Selain itu, belum ditemukan sumber tertulis sezaman yang mendukung versi ini secara kuat.
Versi Mana yang Paling Kuat?
Jika dilihat dari sumber sejarah: Versi Metropolis → Metro adalah yang paling kuat
Karena:
didukung dokumen resmi tahun 1935
sesuai urutan kronologi
diperkuat oleh arsip surat kabar
Sementara:
versi mitro muncul setelah kolonis datang
versi meterm belum memiliki dasar ilmiah kuat
Namun menariknya, yang paling populer di masyarakat justru versi kedua dan ketiga.
Antara Sejarah dan Identitas
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting:
Masyarakat tidak selalu memilih versi sejarah yang paling akurat, tetapi yang paling dekat dengan identitas mereka.
Mitro → melambangkan kebersamaan
Meterm → melambangkan posisi geografis
Metropolis → mencerminkan rencana kolonial
Di sinilah terjadi pertemuan antara sejarah dan makna sosial.Penutup
Nama Metro bukan sekadar nama. Ia adalah hasil dari:
perencanaan kolonial
dinamika sosial kolonis
hingga interpretasi masyarakat modern
Dari Metropolis yang dirancang Belanda, menjadi Mitro yang dimaknai rakyat—hingga kini menjadi Metro yang kita kenal.
Menurut Anda, versi mana yang paling masuk akal?
Artikel ini merupakan pengembangan dari tulisan Kian Amboro berjudul “Menelisik Sejarah Asal Muasal Metro, Apa Makna Dibaliknya?” dengan penekanan pada asal-usul nama Metro berdasarkan kekuatan sumber sejarah.