Mahasiswa Doktoral Universitas PTIQ Jakarta
Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI)
Di tengah hingar-bingar dunia modern yang kerap kali memekakkan telinga batin, sekelompok manusia pilihan memilih untuk menepi sejenak. Mereka bukan lari dari kenyataan, melainkan sedang mempersiapkan diri untuk menyelami realitas yang sesungguhnya. Pada tanggal 17 hingga 19 April 2026, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) menggelar perhelatan mahapenting: Orientasi Mahasiswa/i dan Tadabbur Alam.
Berlokasi di Via Renata yang sejuk dan asri, acara ini bukanlah sekadar ritual penyambutan mahasiswa baru yang lazim ditemui di kampus-kampus pada umumnya. Jika dibedah secara saksama melalui kacamata spiritual, susunan acara demi acara yang dijadwalkan merangkai sebuah suluk yakni perjalanan pendakian jiwa seorang hamba (salik) menuju Sang Khalik, sebelum akhirnya mereka kembali turun ke bumi untuk mencerahkan umat.
Hari Pertama: Tark ad-Dunya
Jumat pagi, 17 April 2026, denyut nadi perjalanan dimulai. Tepat pukul 06.00 hingga 07.30 WIB, para mahasiswa berkumpul di Pick Point Asrama Petojo untuk melakukan persiapan keberangkatan menuju Cianjur, Jawa Barat. Dalam balutan pakaian kasual, mereka membawa perangkat shalat, catatan, dan obat-obatan pribadi. Secara kasat mata, ini adalah persiapan logistik biasa. Namun, dalam tradisi sufistik, momen meninggalkan titik asal ini adalah wujud dari Tark ad-Dunya yakni menanggalkan keterikatan pada zona nyaman keduniawian. Perjalanan dari hiruk-pikuk ibu kota menuju Via Renata adalah manifestasi hijrah dari makrokosmos yang bising menuju mikrokosmos jiwa yang hening.Tiba di lokasi, setelah menunaikan Shalat Jumat, pembagian kamar, istirahat, dan makan siang yang diakhiri dengan Shalat Ashar, momentum sakral pertama pun tiba. Pada pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, di dalam Aula, Direktur PKUMI (Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, MA), Manager PKUMI (Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm) beserta Direktur Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta (Prof. Dr. H.M. Darwis Hude, M.Si) membuka acara Orientasi. Di sinilah terjadi Simbolisasi Pemakaian Jas Almamater.
Bagi seorang calon ulama, almamater bukanlah sekadar kain penanda institusi. Dalam dunia tarekat, momen ini menyerupai penganugerahan Khirqah (jubah sufi) dari seorang Mursyid kepada muridnya. Pemakaian jas ini adalah simbolisasi pemindahan amanah, sebuah pengingat bahwa di pundak mereka kini terpikul tanggung jawab besar sebagai pewaris nabi. Mereka mengenakan "pakaian kebesaran" yang kelak mengharuskan mereka menanggalkan kebesaran ego pribadi (Nafs).
Malam harinya, setelah rangkaian ibadah Maghrib, Wirid, Tadarrus Al-Qur'an, dan Shalat Isya, fondasi intelektual mulai dibangun. Pada pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, para mahasiswa menyerap materi orientasi. Dr. Ala'i Nadjib, M.A. membedah tentang "Orientasi dan Motivasi Ke-ulama-an", Hikmah dari sesi malam ini adalah penyeimbangan antara Aql (akal) dan Qalb (hati). Sebelum cawan jiwa diisi dengan pendaran cahaya spiritual, wadah intelektualnya harus terlebih dahulu dikokohkan. Seorang ulama yang paripurna menurut Imam Al-Ghazali adalah mereka yang mampu mengawinkan ketajaman logika syariat dengan kelembutan hakikat.
Hari Kedua: Riyadhah Raga sebagai Gerbang Takhalli
Sabtu, 18 April 2026, dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Pukul 04.00 WIB, para peserta telah terjaga untuk persiapan Shalat Subuh berjamaah. Pagi itu, lapangan Via Renata menjadi saksi bagaimana para calon ulama ini melakukan Senam Pagi dan Team Building hingga menjelang siang hari. Mereka diwajibkan memakai kaos kegiatan PKUMI, celana olahraga, dan sepatu olahraga.Banyak yang mungkin bertanya, untuk apa calon ulama bermain games dan bersenam? Dalam tasawuf, ini disebut sebagai Riyadhah badaniyah. Raga yang sehat adalah kendaraan yang esensial bagi ruh dalam menempuh perjalanan spiritual yang melelahkan. Selain itu, Team Building mengajarkan konsep Wahdatul Wujud dalam skala sosial; bahwa aku, kamu, dan kita adalah manifestasi dari harmoni ciptaan Tuhan. Keegoisan individu harus dilebur (Fana) demi tercapainya tujuan bersama (Baqa).
Pergeseran dimensi energi yang luar biasa terjadi pada pukul 13.30 dimana ada penanaman nilai "Orientasi ke-Istiqlal-an" dari Dr. Mulawarman Hannase, Lc., M.A.Hum. Adapun pada sore harinya, mulai pukul 16.00 WIB, Staf khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Farid F. Saenong hadir langsung di Aula sebagai narasumber utama untuk memberikan "Penjelasan tentang Tadabbur Alam". Beliau tidak hanya hadir sebagai dosen dan staf dari pada pejabat negara, melainkan sebagai sosok guru ruhani yang membimbing langkah para salik muda.
Puncak transformasi visual dan spiritual terjadi menjelang waktu Maghrib. Para mahasiswa diwajibkan mengganti pakaian mereka. Laki-laki mengenakan Baju Koko Muslim Putih, Sarung berwarna gelap, dan Peci Hitam, sementara para wanita mengenakan Gamis Putih dan Kerudung Putih. Pemilihan warna putih ini bukan tanpa alasan. Memakai baju putih melambangkan pemakaian kain kafan yakni sebuah praktik Mutu qabla an tamutu (matilah engkau sebelum engkau mati). Mereka diajak untuk "mematikan" nafsu duniawi agar hati mereka dapat "hidup" menyaksikan kebesaran Tuhan.
Malam itu, pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, Prof. Nasaruddin Umar membimbing sesi Tadabbur Alam II di Aula. Materi yang dibawakan sangat mendalam: "Pengantar: Khalwat dan Seluk-beluk Salikin" serta "Pembersihan Masa Lalu". Inilah gerbang Takhalli yakni fase pengosongan diri dari sifat-sifat tercela (Madzmumah). Sang guru mengajak para peserta memasuki Khalwat (menyepi diri), tidak hanya secara fisik di alam terbuka, tetapi menyepi di dalam keramaian kalbu. Membersihkan masa lalu berarti mencuci cermin hati (mira'at al-qalb) dari debu-debu dosa dan penyesalan, agar ia kembali memantulkan cahaya Ilahi secara sempurna.
Hari Ketiga: Tajalli di Sepertiga Malam
Jika ada satu malam di mana langit Via Renata terasa begitu dekat dengan bumi, itu adalah Minggu dini hari, 19 April 2026. Tepat pada pukul 01.30 WIB, keheningan malam dipecahkan oleh isak tangis dan lantunan doa. Bertempat di Aula, di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., para mahasiswa melaksanakan Shalat Tahajjud, Sunnat Tasbih, Witir, Muhasabah, hingga menyambung ke Shalat Shubuh dan Tadarrusan.Waktu dari sepertiga malam hingga fajar (01.30 - 06.00 WIB) ini adalah fase Tahalli (menghiasi diri dengan sifat terpuji) menuju Tajalli (tersingkapnya tabir dan menyaksikan keagungan Tuhan). Shalat Tasbih adalah sarana pencucian paripurna, sementara Muhasabah adalah pengadilan air mata di mana seorang hamba menelanjangi segala kelemahannya di hadapan Yang Maha Kuat. Dalam kegelapan yang pekat, para kader ulama ini menemukan cahaya yang paling benderang. Tangis muhasabah mereka adalah tangis kesadaran tauhid, di mana mereka menyadari ketiadaan diri di hadapan Wujud Yang Mutlak.
Setelah fajar menyingsing, alam menyambut kelahiran kembali mereka. Dari pukul 06.00 hingga 07.30 WIB, acara dilanjutkan dengan Tadabbur Alam III. Mereka membaca ayat-ayat Kauniyah (alam semesta) yang terbentang di Via Renata, menyadari bahwa setiap dedaunan yang jatuh, hewan yang bersuara serta embun yang menetes adalah dzikir semesta kepada penciptanya.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi “Senam Bersama Menteri Agama”, "Sinergi & Energi" dan "Sharing Session" pada pukul 08.30 hingga 11.00 WIB. Ini adalah fase penutup yang dalam tasawuf disebut Baqa bi-Allah (tetap bersama Allah). Seorang sufi atau ulama sejati tidak selamanya tinggal di gua pertapaan atau di atas sajadah muhasabahnya. Mereka harus kembali ke dunia, berinteraksi, bersinergi, dan membagi energi positif kepada masyarakat.
Tepat pukul 12.00 WIB, setelah Ishoma, dan makan siang dibagikan kafilah para pencari Tuhan ini melakukan perjalanan kembali ke Asrama PKUMI. Mereka menaiki bus yang sama, menempuh jalan yang sama menuju hiruk-pikuk ibu kota Jakarta, namun dengan substansi jiwa yang sepenuhnya berbeda.
Orientasi dan Tadabbur Alam PKUMI 2026 di Via Renata telah membuktikan bahwa mencetak kader ulama tidak cukup hanya dengan menjejali ruang kognitif di kelas-kelas megah. Seorang ulama, pengayom umat dan bangsa ini kelak, haruslah manusia yang jernih pikirannya, suci hatinya, dan kuat raganya. Mereka telah diajarkan bagaimana "mati" dari dunia untuk hidup bagi Sang Pencipta, agar kelak, ketika mereka benar-benar hidup di tengah masyarakat, setiap kata dan perbuatannya menjadi pelita yang tak akan pernah padam diterpa badai zaman.
