Istiqlal dan Katedral: Dua Iman, Satu Langit


Oleh: Abid Nurhuda
(Mahasiswa Doktoral Universitas PTIQ Jakarta
Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI)



Matahari Jakarta pada Selasa (12/5/2026) terasa sedikit lebih bersahabat saat jarum jam menunjuk angka 12.45 WIB. Di depan Ruang Kelas 1.0, atmosfer akademik yang biasanya kaku mencair dalam riuh rendah percakapan. Sejumlah mahasiswa S3 Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) Angkatan 7 berkumpul. Tak ada buku teks di tangan mereka kali ini, melainkan rasa ingin tahu yang besar dan semangat moderasi yang meluap.

Didampingi oleh dosen pengampu (Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok M.Si) dan admin PKU (Mas Aldo), rombongan ini memulai sebuah langkah kecil yang membawa makna besar bagi dialog lintas iman di Indonesia.

Dari Al-Fattah ke Lampu Merah

Langkah kaki rombongan mulai berderap menyusuri kemegahan Masjid Istiqlal. Keluar melalui Pintu Al-Fattah yakni pintu yang secara etimologi berarti "Sang Pembuka", seolah menjadi simbol pembuka cakrawala berpikir. Perjalanan kaki menuju gerbang luar Istiqlal bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah transisi psikologis dari satu ruang sakral menuju ruang sakral lainnya.

Saat rombongan berhenti di lampu merah untuk menyeberang jalan ke arah Gereja Katedral, terlihat sebuah pemandangan yang amat "Jakarta" yaitu klakson kendaraan yang bersahutan, debu jalanan, namun di seberang sana, menara neo-gotik Katedral tegak berdiri menanti. Menyeberangi jalan ini adalah metafora dari menjembatani perbedaan yakni sebuah upaya sadar untuk keluar dari zona nyaman demi memahami "yang lain" (the other).

Sesampainya di gerbang Katedral, rombongan disambut dengan keramahan yang tulus. Di bawah bimbingan dosen Prof.Ikhsan dan staf admin Mas Aldo yang sigap, rombongan diarahkan menuju titik temu. Di sana, seorang wanita dengan senyum hangat telah menanti. Beliau adalah Ibu Lily, tour guide yang akan menjadi "jembatan" informasi bagi para calon doktor ulama ini.

"Selamat datang di Katedral Jakarta," sapanya. Kalimat sederhana itu menjadi kunci pembuka dialog yang jauh dari kesan menggurui, namun sangat informatif.

Simbol dan Ritual Peribadahan

Ibu Lily mengajak rombongan memasuki area peribadahan utama. Wangi dupa tipis dan cahaya yang menembus kaca patri (stained glass) menciptakan suasana kontemplatif. Di sini, Ibu Lily menjelaskan secara mendalam ritme kehidupan di Katedral. Mulai dari ritual harian hingga perayaan besar di hari Minggu.

Bagi mahasiswa S3 PKUMI, penjelasan ini bukan sekadar informasi teknis. Memahami bagaimana umat Katolik berdoa adalah bagian dari kajian sosiologi agama yang nyata. Ibu Lily membeberkan makna di balik simbol-simbol familiar seperti salib, lilin yang menyala, hingga patung-patung orang suci (santo-santa).

"Setiap simbol memiliki bahasa," ujar Ibu Lily saat menjelaskan representasi Tuhan dalam teologi Katolik. Mahasiswa menyimak dengan takzim, menarik benang merah antara konsep transendensi dalam Islam dan perwujudan pengabdian dalam Katolik. Hikmahnya jelas yaitu meski jalan pengabdian berbeda, substansi mencari keridaan Sang Pencipta adalah frekuensi yang sama.


Menapaki Museum Katedral

Perjalanan berlanjut ke sisi utara gereja, yakni Museum Katedral. Ibu Lily membawa rombongan menembus lorong waktu. Dimulai dari lantai satu, berbagai artefak sejarah Gereja Katolik di Indonesia dipaparkan secara detail. Mulai dari jubah-jubah liturgi kuno, peralatan misa perak, hingga sejarah masuknya Katolik di nusantara.

Naik ke lantai dua, narasi sejarah terasa semakin kuat. Mahasiswa diajak melihat bagaimana agama dan budaya lokal saling berkelindan. Artefak-artefak di sini bercerita tentang inkulturasi bagaimana Katolik beradaptasi dengan budaya Indonesia, persis seperti Islam yang menyebar di nusantara melalui pendekatan budaya.

Pelajaran penting di museum ini adalah mengenai kelestarian. Bagaimana sebuah komunitas menjaga memori kolektifnya agar generasi mendatang tidak kehilangan akar identitasnya. Bagi mahasiswa PKUMI, ini adalah pengingat bahwa merawat tradisi adalah bagian dari menjaga peradaban.

Pulang dengan Kedamaian

Setelah seluruh sudut museum terjamah dan diskusi mendalam berakhir, rombongan pun berpamitan. Langkah kaki kembali diarahkan menuju Istiqlal. Namun, ada yang berbeda dalam langkah pulang ini. Ada beban yang luruh (beban prasangka) dan ada tambahan "bagasi" di hati (bagasi empati).

Kunjungan ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar jargon di atas kertas ujian, melainkan praktik nyata untuk saling mengenal (lita'arafu). Katedral dan Istiqlal yang berdiri berdampingan bukan hanya soal kedekatan geografis, tapi soal kedekatan nurani.

Dari perjalanan singkat ini, para mahasiswa S3 PKUMI belajar bahwa ruang-ruang suci, baik masjid maupun gereja, adalah tempat di mana manusia mencari makna. Memahami ritual orang lain tidak akan melunturkan iman, justru memperkokoh keyakinan bahwa Tuhan menciptakan keragaman agar manusia saling belajar tentang kasih sayang.

"Kita tidak harus menjadi satu, tapi kita harus bersatu dalam kemanusiaan."

Perjalanan berakhir saat rombongan kembali memasuki area Istiqlal. Selasa sore itu, Jakarta mungkin masih sama macetnya, namun di mata para calon ulama ini, wajah kota terasa lebih damai karena satu lagi sekat pemisah berhasil diruntuhkan oleh dialog dan langkah kaki yang tulus.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post