Kesejahteraan, Kesejahteraan, dan Kesejahteraan Lagi: Membaca Arah Pendidikan Kita

Oleh: Noval Sahnitri, S.Pd., Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UM Metro dan Bendahara Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah Purbolinggo


Pendidikan menjadi sesuatu yang penting bagi siapapun, karena dengan memiliki gelar setidaknya orang bisa menaikkan derajat dalam kehidupannya. Meskipun, dalam beberapa hal terkadang pendidikan tidak selamanya menjadi penunjang utama dalam realitanya. Karena ada juga yang beranggapan bahwa untuk meraih gelar dalam pendidikan perlu usaha yang lebih terutama dalam masalah finansial. Terlebih lagi selesai meraih gelar sarjana tidak semuanya bernasib baik untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak. 

Secara mendasar, permasalahan pendidikan Indonesia sangat kompleks mengingat luasnya wilayah dan beraneka ragam budaya yang ada. 

Dalam perjalanannya pendidikan Indonesia mengalami berbagai perjalanan dinamika yang luar biasa sampai detik ini. Masalah kesejahteraan guru inilah yang kemudian terus di gembor-gemborkan. Masalah ini tidak pernah terselesaikan secara gamblang dalam pendidikan Indonesia yang sampai saat ini tidak ada kabar angin segar. Berulang kali para tokoh-tokoh, masyarakat, bahkan pelaku yang menjadi guru sangat mempersoalkan hal ini. Namun, pada kenyataannya tidak terselesaikan kembali, hanya sekadar mencuat, mencuat dan mencuat tanpa ada eksekusi yang jelas. 

Berbicara tentang kesejahteraan, tentu tidak akan ada habisnya, wajar siapa sih yang tidak ingin hidupnya sejahtera. Saya sempat berpikir sebenarnya mengapa hal ini terjadi? 

Apa yang menyebabkan kesejahteraan guru ini tidak menjadi prioritas yang penting dalam kebijakan pemerintah? 

Mengapa harus seperti ini, apakah benar tidak cara lagi untuk bisa membuat kesejahteraan guru menjadi lebih layak secara sesuai porsinya. Jika guru adalah pahlawan tanpa tanda jahasa, apakah ini suatu hal yang sengaja dikabulkan secara tidak langsung, sehingga seolah-olah dalam praktiknya benar-benar sedemikian rupa? Sehingga muncul istilah iya benar itu guru pahlawan tanpa tanda jasa, karena dia sudah mengabdikan dirinya untuk dirinya. Apakah kemudian negara dan kita semua tetap mengiyakan begitu saja? 

Sebenarnya adanya pemerintah itu buat apa dan siapa?

Arah pendidikan Indonesia kita sudah jelas secara undang-undang pendidikan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimananya itu yang kemudian apakah menjawab sudah semua persoalan yang ada, salah satunya ialah kesejahteraan guru. 

Dengan menonjolkan kalimat guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa juga menggambarkan bahwa mereka sudah sangat kuat dan mampu dalam menjalankan kehidupannya. Apa yang telah dibahas barusan mungkin terlihat sepintas asumsi saja? Tapi, kita bisa melihat sendiri ditempat kita masing-masing, silahkan jawab pertanyaan tersebut sekarang. 

Tetapi tetap perlu diingat bahwa apapun yang terjadi guru dengan segala hal kebaikan yang dilakukannya adalah tetap seorang pahlawan tanpa tanda jasa. 

Nah, sekarang ada program Makan Bergizi Gratis yang biasa kita sebut dengan singkatan MBG ini menjadi sesuatu yang akhir-akhir ini bermunculan hal kebijakan yang aneh. 

Saya juga sudah pernah membahas hal ini, dan memang perlu disadari juga bahwa untuk melakukan pengawasan terhadap program ini juga tidak mudah. Akhirnya muncul persoalan yang beragam sampai-sampai banyak yang mengkritik lebih baik anggarannya digunakan untuk mensejahterakan gaji guru saja. 

Setiap rezim pemerintahan pasti memiliki kebijakannya masing-masing dalam menentukan arah Indonesia kedepan terutama dalam hal pendidikan. Mengingat hari ini adalah hari Pendidikan Nasional nampaknya menjadi momentum yang menarik untuk membicarakan apa, mengapa dan bagaimana pendidikan Indonesia seharusnya disikapi oleh pemerintah. 

Nampaknya pemerintah perlu kembali memaknai kembali pendidikan itu sebenarnya untuk kepentingan siapa? Apakah pendidikan benar-benar untuk semua orang atau hanya untuk diri sendiri masing-masing yang memiliki kepentingan tertentu semata? 

Mengapa pendidikan Indonesia perlu diperhatikan, jawabannya harusnya sudah jelas untuk kepentingan rakyat. Mudah-mudahan pemerintah juga berpikir begitu. 

Bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi permasalahan ini, termasuk tentang kesejahteraan gaji guru? Jawabannya sederhanakan, buat kebijakan dan laksanakan selesai kan? 

Tidak semudah itu tapi, coba kalau kebijakan yang lain langsung dilaksanakan contohnya apa, makan bergizi gratis. 

Berarti, sebenarnya pemerintah bisa kan memperhatikan dan langsung mengeksekusi masalah ini? Sangat bisa, kenapa tidak bisa, silahkan tanya aja sama mereka, jawabannya pasti bisa, tapi pada akhirnya tidak bisa. 

Terlepas dari semua itu tadi, secara diri pribadi kita juga harus mensejahterakan pendidikan secara mandiri untuk menuju kemuliaan. 

Karena Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan bahwa “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan.”

Maka selain dari kita mengharapkan kesejahteraan secara finansial, kita juga perlu meningkatkan kesejahteraan secara pendidikan dengan cara terus belajar. 

Dalam surat Al Mujadalah Ayat 11 Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11) 

Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar menyampaikan bahwa dalam belajar itu pertama harus melapangkan hati dan yang kedua harus menguatkan iman dan ilmunya secara bersamaan. Dengan melakukan kedua itu selaras dengan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara pendidikan akan membawakan kepada diri kita menuju kemuliaan baik di dunia dan di akhirat. 

Pada intinya, mari coba kita bersama-sama untuk terus memperjuangkan apa, mengapa dan bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia terutama persoalan tentang kesejahteraan guru yang seharusnya menjadi perhatian lebih. Tetapi, selain dari itu juga kita perlu memperhatikan kesejahteraan pendidikan kita masing-masing dengan melapangkan hati dan memadukan iman dan ilmu secara bersamaan sehingga kita benar-benar menjadi insan yang mulia.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post