Praktik Prostitusi Zaman Belanda dan Jepang Di Indonesia

Hari ini perhatian saya tergoda oleh orang-orang yang posting status di pesbuk. Saat buka beranda dan scroll dari atas ke bawah, ada sekitar 10 postingan status yang menyinggung kasus prostitusi yang menjerat artis ibu kota. Kalimatnya beragam, dan bisa dibilang unik, dianalogikan ke berbagai hal.

Sumber foto: google.com


Seperti “harga apem naik 80jt”, “bakpau 80jt”, atau cuitan di twitter #80jt kalo dibeliin lem perekat bisa untuk merekatkan puing puing hati yang berantakan:’), “cari kerja yg sehari 80jt apa ya” dan lain-lain.

Awalnya saya acuhkan, tapi lama-kelamaan penasaran. Apalagi di pesbuk itukan sering muncul konten-konten berita yang bersponsor. Hampir bisa dibilang, konten beritanya seragam seperti yang udah saya katakan di atas.

Penasaran, tapi tetep belum sepenuhnya percaya , “ini hoax bukan ya” terlintas di kepala. Setelah cross check dan coba cari beberapa rujukan ternyata beritanya sama. Dari situ sedikit punya kesimpulan, “oh..beritanya bukan hoax ternyata.”

Di kota-kota besar di Indonesia, praktik prostitusi sudah menjadi rahasia umum. Bahkan hal semacam ini selalu hadir dan berkembang subur di setiap zaman. Masalah sosial yang senantiasa hadir ini belum bisa terselesaikan. Bentuknya pun beragam, ada yang terselubung dan terang-terangan, maksudnya seperti lokalisasi.

Sedikit mengenang kisah sejarah prostitusi di masa awal penjajahan Belanda, praktik esek-esek semacam ini sudah ada di Batavia, red. Jakarta. Penyebabnya ketika itu orang Belanda datang ke Indonesia tanpa membawa istri. Jadi, jumlah pria lebih banyak dibandingkan jumlah perempuan Belanda ataupun Cina.

Beda zaman beda juga tarif, kalau saat ini heboh dengan tarif 80 juta. Di tahun 1930 Pekerja seks komersial untuk lokal atau pribumi tarifnya sekitar f 1, dan Tarif PSK Cina lebih tinggi dibangingkan pribumi, yaitu sekitar f 2,50. 1 f atau satu gulden lebih kurang sama dengan 7.900 rupiah.

Menurut Ridwan Saidi, tempat konsentrasi prostitusi pertama di Jakarta adalah di kawasan Macao Po, yaitu berupa rumah-rumah tingkat yang berada di depan stasiun Beos (sekarang stasiun Jakarta Kota). Disebut demikian karena para pelacurnya berasal dari Macao yang didatangkan oleh para germo Portugis dan Cina untuk menghibur para tentara Belanda di sekitar Binnenstadt (sekitar kota Inten di terminal angkutan umum Jakarta Kota sekarang). Tempat itu juga menjadi persinggahan orang kaya Cina untuk mencari hiburan, dilansir dari geocities.ws

Pada masa pendudukan Jepang, bisnis prostitusi juga menjamur. Sama halnya pada masa penjajahan Belanda. Banyak para kaum perumpuan dijadikan pelayan nafsu birahi serdadu dan perwira Jepang.

Konon, faktor ekonomi yang memaksa para Jugun lanfu, istilah perempuan yang tertipu dan dipaksa menjadi pemuas nafsu tentara Jepang. Kejamnya pendudukan Jepang membuat rakyat Indonesia menderita. Karena terdesak kebutuhan hidup keluarga para perempuan mudah dijebak dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan. Padahal mereka dijadikan Jugun lanfu.

Meski telah merdeka dari tangan para penjajah, tak serta merta praktik prostitusi lenyap dari negeri ini. Saat ini malah bisa dibilang telah menjelma jadi bisnis komersial. Pelakunya bukan hanya satu atau dua belah pihak. Tetapi banyak pihak yang ikut menikmati dan mengambil keuntungan.

Seperti dilansir dari geocities.ws “Keberadaan pelacuran tidak pernah selesai dikupas, apalagi dihapuskan. Walaupun demikian, dunia pelacuran setidaknya bisa mengungkapkan banyak hal tentang sisi gelap kehidupan manusia, tidak hanya menyangkut hubungan kelamin dan mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi juga pihak-pihak yang secara sembunyi-sembunyi ikut menikmati dan mengambil keutungan dari keberadaan pelacuran.”

Lantas bagaimana cara mengatasinya? Ajaran agama tak lagi dipatuhi, peraturan pemerintah diakali. Wajar jika Tuhan mengambil caranya sendiri.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post