Ruas Jalan Siliwangi-Waringinsari Barat, Puluhan Tahun Tidak Tersentuh Pembangunan




Kondisi Jalan Pekon Siliwangi Dusun III

Masyarakat sepanjang ruas jalan Pekon Siliwangi menuju Pekon Waringinsari Barat Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu rindukan pembangunan.

Jalan yang membentang sepanjang Dusun III Pekon Siliwangi-Sinar Pasundan ini terakhir merasakan pembangunan di era pemerintahan Orde Baru.

Menurut salah satu warga yang berhasil ditemui, dirinya mengaku masih ingat mengenai pembangunan jalan di depan kediamannya itu.

“Ingat saya, bener saya menyaksikan jalan ini dionderlagh tahun 1996, dan belum dibangun lagi, untung ada Orde Baru” kenang Didin salah satu warga setempat.

Dari pertama kali dionderlagh tahun 1996 hingga kini telah terhitung 23 tahun. Padahal jalan ini merupakan jalur alternatif yang banyak digunakan warga kedua desa tersebut.

Bila kita mau berhitung, selama 23 tahun tentunya sudah berkali-kali diselenggarakan pemilihan umum, beberapa kali juga menentukan wakil rakyat. Baik untuk pusat maupun para wakil rakyat yang dipilih untuk mengisi jabatan ditingkat kabupaten.

Sebagai masyarakat yang baik tentu akan selalu berkhusnudzon, tidak baik menuduh tanpa memiliki alasan kuat. Mungkin APBD kita diprioriaskan untuk pembangunan yang lain. 

Namun masyarakat tentunya merasa heran. Sudah berpuluh-puluh tahun sama sekali tidak mendapatkan sentuhan pembangunan. 

Padahal bila dilihat dari fungsinya, desa merupakan penyangga kota, bukan sapi perahnya.

Mengingat jalan ini terakhir dibangun pada era Orde Baru, orang sejarah dapet objek penelitian. “Jejak Pembangunan Masa Orde Baru di Pekon Siliwangi,” misalkan.



Lagi-lagi sebagai masyarakat yang pernah diajarkan tata krama, minimal ketika mengaji di TPA, tidak baik kalau menuduh para wakil rakyatnya tidak bekerja, atau mengatakan habis manis sepah dibuang. 

Maksudnya, ketika menjelang pemilu para calon abdi masyarakat itu kan berbondong-bondong turun ke desa, membentuk timsukses hingga ke tingkat RT, beramah tamah dengan masyarakat, menjanjikan program-program pembangunan. 

Tapi setelah itu menghilang, muncul lagi ketika menjelang pemilu.

Bagi masyarakat yang taat, berkhusnudzon tidak akan ada habis-habisnya. Mungkin wakil rakyat kita lagi sibuk mengurus hal lain di kantornya.

Beberapa bulan lagi menjelang Pemilu 2019, jalan-jalan rusak, masyarakat prasejahtera dan keluhan-keluhan masyarakat akan dibeli dengan rasa empati dan ucap janji.

Baca juga Jadi Caleg, Buat apa?

Sebagai masyarakat yang baik, tidak boleh gaduh. Karena kalau gaduh pemerintahan ketahuan belangnya. 

Diam-diam tentukan saja pilihannya pada sosok calon wakil rakyat yang memiliki integritas, menyimpan dedikasi dalam dadanya untuk membela kepentingan rakyat tanpa syarat.


Penulis: Barnas Rasmana (Penyambung Lidah Rakyat)

Kolom Komentar

Previous Post Next Post