Tikam Menikam Di Internal Partai PKI






Tikam menikan di internal partai seolah tak bisa terbantahkan. Bila kita menelusuri jejak sejarah. Setelah upaya-upaya dilakukan untuk mengkonsolidasikan internal organisasi, para tokoh komunis yang sebelumnya terpencar di beberapa daerah, bahkan yang di luar negeri mulai berdatangan dan mengadakan kongres yang pertama kalinya setelah proklamasi.

Tercatat, para tokoh politik itu adalah Sardjono, Aidit, Nyoto, Alimin dan anggota lain yang berhaluan kiri, berkumpul di Solo untuk mengadakan kongres PKI yang ke-4, Gie dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Dipersimpangan Kiri Jalan.

Kongres menghasilkan kepengurusan partai yang baru, ketika itu Sardjono terpilih sebagai ketua. Diadakannya kongres dan Sardjono terpilih sebagai pucuk pimpinan PKI baru, bersamaan dengan suasana politik Indonesia yang memanas akibat kedatangan Belanda dan hasil dari perjanjian Linggarjati.

Di tubuh PKI baru, muncul suara sumbang. Kesepakatan yang diambil oleh Sjahrir dan Van Mook perwakilan Belanda, dengan isinya, kedua negara yang sedang bertikai itu sama-sama mengakui secara de jure dan akan menjalin hubungan dalam sebuah uni Indonesia-Belanda. Mendapat kritikan dari Oei Gee Hwat yang merupakan tokoh Pesindo. Ia menaruh kecurigaan apakah politik yang diambil “Sayap Kiri” ini sudah tepat? akibat perbedaan pendapat ini di kemudian hari mengakibatkan terjadinya tikam menikam di internal partai PKI.

Aidit dan kawan-kawannya, grup Surabaya juga mempertanyakan hal yang sama. Sejumlah kader yang bandel mulai mendirikan grup-grup Komunis lain. Seperti kata Gie, grup yang dimaksud ialah PKI Merah, Permai, PCI, Acoma, dan Partai Buruh Merdeka.

Meski berbagai perbedaan dalam menentukan kebijakan muncul dari para anggota di internal Partai PKI, untuk sementara waktu mereka tetap solid dan mengabdikan dirinya tetap berada dalam tubuh PKI.

Dua bulan setelah ditandatanganinya Persetujuan Linggarjati, sengketa antara Indonesia-Belanda kembali terjadi. Belanda kembali menuntut supaya Sjahrir sebagai yang bertanggungjawab mewakili pihak Indonesia agar menyetujui ultimatum yang dilayangkan pihak Belanda. Meski tidak secara tersurat, apabila Sjahrir tidak menyetujui maka Belanda akan menyatakan perang.

Situasi ini menjepit Sjahrir, ia mencari dukungan dengan menemui A.K. Gani (PNI), Natsir (Masyumi), dan Abdulmadjid (Partai Sosialis). Amir Syarifudin sebagai rekan di Sayap Kiri mendukung Sjahrir menerima secara de jure, interim goverment dari pemerintah Belanda.

Abdulmadjid yang sebelumnya mendukung Sjahrir ternyata berbalik arah. Di Yogyakarta dihadapan para tokoh Sayap Kiri ia menentang Sjahrir. Amir pun demikian, para tokoh Sayap Kiri seperti Tan Ling Djie dan Wikana terpengaruh dan ikut menentang Sjahrir.

Pada tanggal 26 Juni 1947, Sjahrir datang ke Yogyakarta dan berusaha menjelaskan situasi politik yang menjepitnya. Namun Sjahrir tidak berhasil meyakinkan rekan separtainya. Alih-alih mendapatkan dukungan, Sjahrir ditentang oleh para tokoh Sayap Kiri dan pada saat pemungutan suara Sjahrir kalah.

Sjahrir tentu kecewa melihat partainya sendiri tidak memberikan dukungan pada dirinya. Keesokan harinya, Sjahrir menyerahkan jabatan kepada Presiden Sukarno.

Jatuhnya Sjahrir dari kabinet terdengar oleh Setiadjid dan Oei Gee Hwat yang saat itu baru pulang dari Praha tiba di Jakarta. Gie menuliskan bahwa Setiadjid segera naik kereta api ke Yogya dan memanggil pimpinan Sayap Kiri untuk memberikan penjelasan.

Mendengar situasi yang terjadi, Setiadjid justru membenarkan langkah yang diambil Sjahrir dengan Belanda. Ia uraikan pengalaman-pengalamannya di Praha selama mengikuti Kongres World Federation Of Trade Union (WFTU) dan memberikan gambaran situasi di Eropa.

Mendengar penjelasan Setiadjid, para tokoh Sayap Kiri sadar telah melakukan kesalahan dan meminta Sjahrir kembali memimpin kabinet. Namun Sjahrir menolak, karena telah merasa kecewa atas perbuatan kawan-kawan dekatnya yang berjanji mendukung, tetapi kemudian malah mengkhianatinya.

Setelah menikam Sjahrir, para tokoh Sayap Kiri getol mempropagandakan pembelaannya. Mereka konsisten tidak mau mengakui kesalahan perhitungan politiknya atas kebijakan politik kompromi yang diambil Sjahrir. Tujuan dari propaganda ini untuk menyelamatkan marwah Sayap Kiri itu sendiri.

Aidit, mendadak memberi kesan hormat pada Sjahrir. Gie mencatatnya “dalam sebuah artikel, Aidit menyebut tuan Sjahrir, padahal biasanya Bung Sjahrir.”

Kemudian Hasnan, seorang kolumnis Sayap Kiri membuat pembelaan dan menyudutkan Sjahrir, bahwa jatuhnya dari kabinet karena kesalahan Sjahrir sendiri. Pembelaan lainnya datang dari Nyoto, politik kompromi tidak sejalan dengan garis Komintern.

Alimin, tokoh sepuh yang dihormati dikalangan Sayap Kiri turut menyalahkan Sjahrir. “Saya berpendapat bahwa sikap Sjahrir yang misterius sangat merugikan pergerakan rakyat seluruhnya. Ia memecah belah dan mencicincang isi dari naskah linggajati dan mempersembahkan nasib revolusi dan rakyatnya bagi keperluan groot kapital.”


Baca juga Partai Sosialis: Koalisi Kepentingan untuk Menikam Kawan dan Lawan

Seperti itulah sekelumit kisah yang terjadi di internal partai politik atau PKI sesaat setelah Indonesia Merdeka. Kisah tikam-menikam di internal partai seperti ini tentu masih sangat banyak kita jumpai saat ini. Lihat saja, para pimpinan partai yang suka loncat sana sini, berganti-ganti bendera partai. Itu menandakan bahwa adanya ketidakharmonisan di dalam partainya. Atau perhatikan juga hasil-hasil kongres partai politik yang menghasilkan dualisme kepemimpinan.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post