Bukan lagi dongeng jika Lampung menjadi salah satu daerah penghasil Kopi terbesar di
Indonesia. Bahkan menurut hasil penelitian, produksi Kopi asal Lampung mengisi
tujuh puluh persen ekspor Kopi seIndonesia.
Namun, naif rasanya bila
generasi saat ini hanya sebatas mengenal Lampung sebagai daerah penghasil Kopi
terbesar tanpa memahami asal-usul keberadaan Kopi itu sendiri.
Kopi yang banyak orang
konsumsi saat ini, terutama di Lampung merupakan buah keringat moyang kita yang
dipaksa membuka atau membabat hutan belantara menjadi perkebunan masyarakat.
Aktifitas pembukaan hutan belantara ketika itu sejalan dengan diterapkannya
kebijakan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda yang terkenal dengan
sebutan Trias Politika. Histori.id merilis bahwa Trias Politika mencakup “irigasi, emigrasi, edukasi.”
Sejalan dengan itu, Hari
Ganjar Budiman (2012), mengungkapkan hal demikian “Memasuki masa Politik Etis, pembudidayaan kopi sampai Sumatera, salah
satunya hingga ke daerah Lampung. Beriringan dengan proses kolonisasi
(perpindahan penduduk) tahap pertama (berlangsung dari 1905 sampai 1911) di
Lampung, para kolonis asal Jawa dan kolonis keturunan Tionghoa mulai membuka
lahan dan mengembangkan tanaman kopi. Tanah Lampung yang subur serta luas
memungkinkan pembudidayaan kopi dalam jumlah besar melalui perkebunan rakyat
yang tersebar di mana-mana. Perkebunan ini terus berkembang dari masa
pemerintah Hindia-Belanda hingga masa Indonesia merdeka.”
Merujuk pada informasi
di atas, lantas haruskah kita berterima kasih pada pemerintah Hindia Belanda
sebab telah membawa Kopi ke Lampung dan ternikmati hingga kini? Tentu itu merupakan
hal lain, karena banyak sejarawan menyebut Politik Etis yang digaungkan sebagai Politik Balas Budi
seolah-olah hanya kemasan untuk memperdaya kaum pribumi.
Pekerjaan berat
menjadi kewajiban masyarakat kolonisasi Jawa di Lampung. Bisa dibayangkan sebelum
era modern seperti sekarang ini, peralatan apa yang digunakan untuk membabat
hutan belantara dan membuat saluran irigasi?
Adapun yang terdapat di Museum
Transmigrasi Gedong Tataan dan Museum Lampung, alat untuk menebang pohon itu
berupa bola
besi berdiameter 1,4 meter. Bola Besi itu digunakan untuk merobohkan pohon-pohon
besar dalam rangka membersihkan lahan transmigrasi.
Lantas bagaimana
prosesnya sehingga saat ini Kopi menjadi salah satu komoditas utama di Provinsi
Lampung?
Koentjaraningrat (1984: 394) seperti dikutip Budiman, mengungkapkan
bahwa “Lada dan Kopi merupakan tanaman
produktif yang awalnya dikembangkan oleh para kolonis dengan cara membuka hutan
rimba. Banyaknya kolonis/ transmigran yang datang, bersamaan dengan itu pula
banyak perkebunan-perkebunan kopi yang dikembangkan. Kondisi ini menciptakan
keberlimpahan komoditi kopi di Lampung. Hingga saat ini Lampung menjadi
Provinsi pengekspor kopi terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 70% dari
keseluruhan eksport kopi seIndonesia.”
Kini, komoditas Kopi
Lampung tersebar di beberapa wilayah seperti di Kabupaten Tanggamus dan
Kabupaten Lampung Barat. Seperti yang diungkapkan oleh Andri salah satu Barista
Kedai Kopi di Bandar Lampung, ia menyebutkan bahwa kopi yang ada di kedainya
berasal dari Kecamatan Hanakaw, Sekincau dan Way Tenong, Lampung Barat.
Untuk daerah
Tanggamus, Kabupaten Tanggamus adalah penghasil kopi robusta terbesar. Produksi
kopi Tanggamus mencapai 24.252 ton pada tahun 2012. Persentase kopi mencapai
55,20 persen dari total produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Tanggamus.
Luas lahan kopi di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2012 mencapai 40.380,00
hektar (BPS Tanggamus dalam Angka, 2013 seperti dilansir digilib.unila.ac.id).
Kopi dan Sejarahnya Di Indonesia
Tanaman kopi disebut-sebut berasal dari Abyssinia, salah satu nama daerah di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara
Etiopia dan Eritrea. Sedangkan Kopi sebagai minuman pertama kali dipopulerkan
oleh orang-orang Arab. Biji kopi dari Abyssinia dibawa oleh para pedagang Arab
ke Yaman dan mulai menjadi komoditas komersial, Jurnalbumi.com dikutip 23
Februari 2019.
Masih dikutip dari Jurnalbumi.com Sejarah budidaya
kopi di Indonesia mengalami berbagai kendala akibat bencana alam dan hama
penyakit. Tercatat Belanda harus beberapa kali mendatangkan tanaman kopi ke
Indonesia.
Pertama, pada tahun 1696, Belanda membawa
kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut
di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia.
Kedua, pada tahun 1699 dengan mendatangkan
stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari
tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya
Amsterdam. Selanjutnya tanaman kopi diperluas di perkebunan yang dikembangkan
di Indonesia, seperti ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau
lainnya di Indonesia.
Ketiga, pada tahun 1907 Belanda mendatangkan
spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali
ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di
dataran rendah bisa bertahan.
