![]() |
| Potret Penjual Sayuran di tepi jalan Desa Balik Bukit - Liwa (24/11/2019) |
Ini merupakan kali keempat saya menapakan kaki di Liwa - Lampung Barat, daerah di Provinsi Lampung yang terkenal dengan udara dingin.
Dinginnya udara di sini saya rasa disebabkan oleh letak geografisnya yang berupa daerah pegunungan. Bahkan, gugusan gunung tertinggi di Lampung (Gunung Pesagi) pesonanya mulai terlihat ketika kita sudah memasuki kecamatan Sumber Jaya menuju Liwa.
Kondisi seperti ini nampaknya memberi ciri khas tersendiri bagi masyarakat Liwa, kebanyakan dari mereka memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Seperti menanam sayuran, buah-buahan dan tanaman perkebunan lainnya.
Alhasil, komoditas utama dari hasil pertanian di Liwa atau Lampung Barat, seperti wortel, kol, kentang, labu siam/jipang, kini telah menjadi daya tarik masyarakat Lampung. Bahkan kabarnya ditribusi hasil pertaniannya telah menjangkau hingga luar pulau sumatra dan mancanegara. Kopi salah satu bukti nyatanya.
Di pusat-pusat penjualan yang ada di kabupaten/kota di Provinsi Lampung, sayuran asal Liwa-Lampung Barat selalu memenuhi lapak-lapak para pedagang sayuran. Bukan 1 atau 2 kilo jumlahnya, tetapi di tangan satu pengepul bisa menampung ratusan kilo bahkan tonase sayuran.
Pasar Terminal Sarinongko kab. Pringsewu contohnya, setiap pukul 22.00 dan 02.00 menjadi lokasi bongkar muatan mobil truk pengangkut hasil bumi dari Liwa. Selain sayuran yang saya sebutkan di atas, masih ada ubi jalar yang biasanya diincar para pengepul.
Belum lagi di pusat-pusat penjualan sayuran lainnya seperti di Kota Bumi, Kota Metro dan Bandar Lampung. Bila kita sedikit meluangkan waktu untuk menelusuri dan bertanya kepada pedagang sayuran mengenai asal sayurannya, tidak menutup kemungkinan si pedagang tersebut menjawab bahwa sayuran yang ia jual berasal dari Liwa-Lampung Barat.
Meski memang tidak hanya Liwa saja sebagai penghasil sayuran, tetapi di beberapa tempat di Provinsi Lampung, seperti Gisting Tanggamus, bahkan yang sedang trend saat ini ada Kelompok Tani di Kota Metro yang tengah gencar membudidaya Sayuran Organik. Lokasinya berada di kelurahan Karangrejo-Metro Utara.
![]() |
| Potret Penjualan Buah Hasil Perkebunan Masyarakat Liwa (24/11/2019) |
Potret ini menggambarkan, selain menjadi lumbung sayuran di Provinsi Lampung, terdapat suattu daerah di Liwa yang juga cocok untuk ditanami berbagai jenis buah-buahan.
Lokasi penjual buah lokal ini berada di jalur masuk menuju Kebun Raya Liwa. Tempatnya sangat strategis dan representatif untuk disinggahi oleh para pelancong. Saya ketika itu singgah dan membeli 2kilo Jeruk Segar (Jeruk BW).
Menurut pengakuan penjual, yang usianya sudah terbilang sepuh, namun sayang saya lupa akan namanya, Buah jeruk yang ia jajakan berasal dari perkebunan milik masyarakat setempat. Tetapi ketika saya menanyakan di mana persisnya perkebunan Jeruk BW tersebut ia terlihat sedikit merahasiakan.
Kemudian saya berfikir dan maklum, mungkin itu bagian dari rahasia perusahaannnya yang tidak perlu semua orang tahu.
Selain sayuran dan buah-buahan, satu lagi yang menjadi primadona hasil perkebunan masyarakat Liwa dan sekitarnya ialah Kopi.
Dengan berbagai inovasi, masyarakat yang membudidaya Kopi saat ini tidak serta merta menjual begitu saja Biji Kopi hasil panenannya.
Mereka kini berani mengolah Biji Kopi menjadi bubuk Kopi siap seduh lengkap dengan kemasan yang menarik.
Di pusat-pusat penjualan oleh-oleh (buah tangan) di Pasar Liwa banyak tersaji berbagai varian kopi yang sudah dikemas sedemikian rupa dengan berbagai ukuran.
Bahkan, banyak dari pengusaha warung-warung kopi (Warkop) di Bandar Lampung, Pringsewu dan Kota Metro turut menjajakan primadona hasil perkebunan masyarakat Liwa dan sekitarnya.
![]() |
| Potret Bundaran Kota Liwa. Diambil sekitar pukul 04.30, Minggu (24/11/2019) |
![]() |
| Potret Peserta Kebut Gunung Pesagi (Kibar 8) sedang breaving dengan pihak penyelenggara di desa Balik Bukit yang berada di lereng Gunung Pesagi. |





