BUNGA Nusa Indah (Mussaenda pubescens) dan Burung Walet (Collocacia vestita) adalah flora dan fauna yang menjadi maskot Kota Metro. Flora dan Fauna yang memiliki banyak keunggulan dan kelebihan, tak keliru jika para pendahulu kota ini memilih flora-fauna ini sebagai maskot atau ikon.
![]() |
| Foto: Ilustrasi | sumber:google |
Bunga Nusa Indah yang umumnya diketahui memiliki dua warna, yakni putih dan merah muda. Wikipedia mencatat, tanaman yang sering dijumpai sebagai penghias taman ini dapat digunakan sebagai obat pada bagian ranting, daun, dan akarnya selain keindahan bunga dan oksigen yang dihasilkannya.
Sedangkan Burung Walet tak perlu lagi diragukan kegunaannya sebagai bahan baku pengobatan yang bernilai sangat mahal. Satwa yang hanya bisa dijumpai di Asia Tenggara ini memiliki kemampuan unik yaitu dapat terbang dalam situasi gelap dengan kemampuan ekolokasinya. Mungkin hampir semua warga Kota Metro pernah melihat dua makhluk hidup ini. Tetapi ironisnya tak banyak Generasi Y apalagi Generasi Z warga Kota Metro yang tahu bahwa flora dan fauna ini adalah maskot dari kotanya. Alih-alih maskot kotanya, Gen-Z lebih banyak hapal nama-nama café atau tempat nongkrong kekinian yang menurut mereka bagian dari modernnya peradaban perkotaan.
![]() |
| Foto: Ilustrasi | Sumber: google |
Ada pengalaman pribadi yang menarik berkaitan dengan kedua maskotnya. Ketika beberapa waktu lalu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro menyelenggarakan Lomba Cepat Tepat (LCT) Kebudayaan dan Permuseuman yang diselenggarakan di Rumah Dokter (Dokterswoning). Pesertanya adalah seluruh perwakilan peserta didik SMP Negeri Swasta di Kota Metro.
Hal yang mengejutkan adalah, dari 50 butir soal/pertanyaan khusus untuk kategori sejarah, budaya, dan identitas lokal Kota Metro, tak lebih dari sepuluh persen yang berhasil dijawab oleh semua peserta LCT, bahkan peserta dari sekolah-sekolah pemenang yang konon unggul. Termasuk pertanyaan mengenai flora dan fauna maskot Kota Metro, bahkan nama tempat (bangunan bersejarah) dilaksanakannya kegiatan LCT (Rumah Dokter/Dokterswoning) dimana mereka berada ketika itu, mereka pun tak tahu. Sangat berbanding terbalik dengan kategori-kategori soal/pertanyaan lainnya yang bersifat umum, yang bahkan hampir terjawab semua dengan baik.
Wajar memang, karena pengetahuan itu tidak didapatkan di bangku persekolahan, atau bahkan flora maskot pun tak tertanam di taman-taman kota yang banyak jumlahnya, fauna maskot pun mungkin jarang dilihat langsung oleh para Gen-Z. Dalam pelajaran IPA atau Biologi pun mungkin tak pernah dua maskot ini digunakan sebagai contoh pembahasan materi pelajaran.
Tetapi yang jelas ini menjadi keprihatinan, apabila generasi-generasi muda di Kota Metro ini tidak paham identitas-identitasnya. Jangankan lupa identitas, paham pun tidak, apalagi berbudaya. Sangat bertolak belakang dengan Jepang yang memilih untuk tidak mengapa tak bisa berbahasa Inggris, asalkan tetap menjadi orang Jepang, beridentitas Jepang, berbudaya Jepang tetapi tetap bisa berperadaban maju. Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan/persekolahan di sekitar kita? Anda punya banyak waktu untuk mengamati dan merenunginya.
Jika disepakati bahwa sejarah adalah bagian dari identitas. Maka membelajarkan sejarah lokal atau pengetahuan sosial lokalnya adalah bagian dari proses mengajarkan identitas tersebut. Analogi seperti halnya orang tua yang memberikan identitas dan mengajarkan identitas kepada anaknya, seperti siapa namanya, dari mana sang anak berasal, siapa nama orang tuanya, dan seterusnya.
Tetapi jika menengok pengalaman pribadi di atas, nampaknya banyak orang tua (dalam arti sebenarnya maupun lembaga) begitu bersemangat “hanya” mengajarkan identitas kebangsaan kepada anaknya, tetapi lupa menunjukkan dan mengajarkan identitas diri anaknya sendiri. Begitu membanggakan berbagai kejuaraan yang dimenangkan, tetapi tak mempermasalahkan sang anak tak mengenali dirinya sendiri. Anak dapat menjelaskan dengan baik bagaimana perjalanan panjang sejarah bangsa ini, “menghapal” dengan baik nama tokoh, peristiwa, tahun, dan tempat yang mungkin tak pernah mereka sambangi. Tetapi tak tahu siapa dirinya sendiri, dan “tak tahu” ada dimana ia hidup, tumbuh, tinggal, dan berkembang, yang itu melekat dan menjadi bagian juga dari identitas diri sang anak.
Tak khawatir sang anak akan tercerabut dari akarnya. Maka “orang tua” jangan menyesal apabila ketika kelak sang anak berhasil dan menjadi sukses, sang anak enggan kembali kepada “orang tuanya”, enggan membangun lingkungan dimana ia dahulu tumbuh dan berkembang. Karena sejak awal memang tak ditunjukkan identitasnya, tak ditumbuhkan rasa memiliki terhadap kotanya. Dan jangan heran jika kelak mereka hanya kembali di masa tuanya, bukan di masa muda yang penuh energi dan membawa perubahan ke arah kemajuan bagi kotanya. Lebih bangga ketika kembali ke orang tuanya dan menceritakan keberhasilannya di luar sana, ketimbang tinggal dan membangun kotanya sendiri. Kota dimana ia dilahirkan dan belajar untuk berdiri di atas kedua kaki.
Selamat Hari Jadi ke-84 Kota Metro, Bumi Sai Wawai.
Di usia mu yang tak lagi muda ini, semoga anak-anak mu juga semakin tumbuh dewasa dan belajar akan banyak hal, sehingga dapat membawa mu ke masa depan yang semakin baik.
(Berandadesa.com - Sejarah)Penulis: Kian Amboro (Pengajar di Pendidikan Sejarah UM Metro)

