“pasar-pasar di Kewedanaan Metro jang banjaknja 7 buah itu , jaitu pasar Metro , pasar Trimurdjo, pasar Pekalongan, pasar Batanghari, pasar Sekampung, pasar Bantul dan pasar Punggur.”
Demikianlah salah satu kalimat yang ada di dalam buku Provinsi Sumatera Selatan menerangkan bahwa keberadaan pasar di wilayah Kawedanaan Metro pada tahun 1950-an. Pasar-pasar tersebut merupakan pasar yang terletak di ibu kota kecamatan. Adanya pasar-pasar di atas menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat saat itu. Pasar saat itu menjadi ruang menjual hasil bumi sekaligus mendapatkan keperluan sehari-hari penduduk.
![]() |
| Adi Setiawan (Guru SMA Negeri 1 Sekampung) dan juga pegiat sejarah di Lampung |
Keberadaan pasar bukan hanya sekedar tempat aktivitas jual dan beli, namun secara tidak sadar pasar juga menjadi bagian dalam transfer nilai-nilai dan budaya karena di dalamnya terdapat interaksi antar manusia.
Masyarakat umum mengenal dua jenis pasar yakni pasar tradisonal dan pasar modern. Keduanya memiliki perbedaan dan ciri masing-masing. Di dalam pasar tradisional biasanya kegiatan jual-beli dilakukan dalam ruang yang sederhana. Sementara pasar modern memiliki fasilitas yang melebihi pasar tradisional.
Pasar templek merupakan salah satu istilah yang lekat dengan ciri-ciri pasar tradisional. Ciri khusus yang melekat pada pasar templek adalah aktivitas jual-beli yang tidak dilakukan setiap hari. Umumnya pedagang dan konsumen di pasar templek melakukan kegiatan jual-beli berdasarkan pasaran atau sistem pancawarna (paing, pon, wage, kliwon dan legi). Sehingga di beberapa daerah ada penyebutan pasar templek dengan nama pasar paing, pasar pon, pasar wage, pasar kliwon, pasar legi.
Di dalam pasar templek, pedagang berdagang sesuai dengan urutan hari atau pasaran dengan tempat atau pasar yang berbeda. Misalkan pasar templek A beraktivitas pada hari paing, kemudian pasar templek B pada hari pon dan seterusnya. Ini adalah satu keunikan yang saat ini mulai hilang di tengah-tengah masyarakat.
Namun aktivitas pasaran semacam itu masih dapat dijumpai di Kecamatan Sekampung, Lampung Timur. Ada tiga desa di kecamatan ini yang masih melakukan aktivitas berdagang dengan sistem pasaran. Tiga desa itu adalah desa Girikarto (Bedeng 67), desa Wonokarto (Bedeng 61), dan desa Trimulyo (Bedeng 59). Letak tiga desa ini bersebelahan. Jika kembali dalam sejarah, ketiga desa tersebut berdiri sekitar tahun 1941. Ketiganya juga pernah menjadi bagian dalam Kawedanaan Metro.
Untuk pasar templek 67 dan pasar templek 61 sudah berdiri puluhan tahun. Kemudian untuk Pasar templek 59 baru berdiri belum lama ini.
Adapun jadwal pasaran di masing-masing desa yaitu:
Hari Senin Pasar templek 67
Hari Selasa Pasar templek 61
Hari Rabu Pasar templek 59
Hari Kamis Pasar templek 67
Hari Jumat Libur
Hari Sabtu Pasar templek 61
Hari Minggu Pasar templek 59
Inilah satu keunikan yang dimiliki pedagang di tiga pasar itu. Mereka akan berrdagang berpindah-pindah mengikuti jadwal di atas.
Kegiatan jual-beli di masing-masing pasar dilakukan dengan fasilitas sederhana, beberapa tempat pedagang berjualan terbuat dari bahan bambu beratap genteng, adapula yang menempati los yang berbahan semen dan beratapkan seng. Untuk pedagang berasal dari dalam desa dan luar desa.
Sementaa pembeli atau konsumen ketiga pasar itu bukan hanya dari desa pasar itu bertempat, namun ketiga pasar templek itu menjadi tempat favorit pembeli dari desa-desa lain. Seperti warga desa Negeri Katon, kecamatan Margatiga membeli kebutuhan di pasar templek 67.
Kegiatan jual-beli dimulai selepas subuh. Saat hari beranjak siang aktivitas pasar mulai sepi. Saat menjelang hari raya Idul Fitri adalah waktu yang ramai dengan pembeli. Aneka kebutuhan dapat dijumpai di ketiga pasar itu mulai bahan pangan hingga sandang. Makanan tradisional seperti cenil, dawet, pecel, nasi urap dan sebagainya dengan mudah ditemui di ketiga pasar itu.
Keberadaan pasar tradisional di tiga desa itu merupakan suatu pemandangan yang unik. Aktivitas jual-beli dengan komunikasi bahasa Jawa yang tak jarang tawar-menawar dibumbui dengan canda tawa. Inilah yang menjadi magnet bagi konsumen untuk datang selain juga karena letak pasar yang dekat dengan tempat tinggal mereka.
Dari pasar templek inilah nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa juga dapat senantiasa dilestarikan. Karena setiap ruang adalah tempat manusia untuk belajar dan mendewasakan diri.
Penulis
Adi Setiawan (Guru SMA Negeri 1 Sekampung)
