Hihid, Kipas Angin Tradisional Urang Sunda

HIHID nama lain Kipas dalam bahasa ibu saya. Hihid biasa digunakan untuk mendinginkan Nasi atau dalam bahasa Sunda disebut dengan Ngakeul. Selain untuk Ngakeul, Hidid juga bisa untuk menjaga bara api agar tetap menyala. Menggunakannya dengan cara dihempaskan, pegang Hihid dan bagian pergelangan tangan kita gulirkan secara bolak-balik maka akan menghasilkan hembusan angin.

Hihid 99,9% bisa dibilang terbuat dari Bambu, 0,1%nya tali plastik, untuk mengikat supaya sambungan antara anyaman Bambu (Kipas) dan gagang/pegangannya tidak mudah lepas. Dari perkiraan saya, sebelum ada tali plastik, mungkin tali pengikat dibuat dari Tali Rotan, karena tanaman Rotan yang sudah langka, maka alternatifnya menggunakan tali plastik yang mudah didapatkan.

Sewaktu kecil dan hidup di desa, orang tua (Ayah) dari Ibu saya sering kali membuat berbagai macam kerajinan dari anyaman Bambu. Seperti Tampir (Tampah), Nyiru (mirip Tampah tapi ukurannya lebih besar), Tolombomg (wadah berbentuk bundar cekung dengan alasnya sedikit persegi), Aseupan (wadah untuk mengukus Nasi atau makanan lainnya yang berbentuk kerucut) dan tentunya Hihid itu sendiri.

Semua nama barang yang saya sebutkan di atas terbuat dari Bambu. Terlihat seperti benda sederhana. Namun dibalik itu, butuh tangan-tangan terampil untuk membuatnya. Pun proses pembuatannya harus disertai kesabaran dan ketelitian. Hanya tangan tangan generasi terdahulu yang biasa membuatnya. KITA yang muda muda kadung terbiasa mengabaikannya.

Proses Pembuatan Hihid

Aki (Kakek), sejauh yang saya ingat dari dahulu hingga saat ini masih memiliki tanaman pohon Bambu di pekarangan belakang rumahnya. Setiap ia (Aki) akan membuat Hihid atau yang lainnya maka beberapa batang pohon Bambu mulai diseleksi, dipilih Bambu yang usianya sudah cukup tua, kemudian Bambu yang diyakini sudah layak akan ditebang.

Ada yang unik dalam proses menebang batang pohon Bambu ini, selain dipilih batang yang sudah tua, juga ada perhitungannya tersendiri. Konon menebang batang pohon Bambu harus memperhatikan jam, hari dan bulan. Untuk perhitungannya sendiri saya kurang begitu memahami, tapi belakangan saya mencari tahu menebang pohon bambu disarankan diatas jam 12 siang, hindari menebang pohon Bambu di hari Selasa dan Sabtu dan bulan yang dimaksud baik untuk menebang pohon Bambu adalah peredaran Bulan di langit.

Sewaktu bulan besar yaitu tanggal 13,14,15 atau dua hari sebelum purnama kurang baik untuk menebang pohon Bambu. 

Tiga kriteria perhitungan menebang Bambu (Jam, Hari dan Bulan) tersebut bila ditarik kesimpulan, tujuannya adalah supaya saat nanti Bambu dianyam dan dibuat Hihid atau kerajinan lainnya tidak mudah dimakan Hama (Rayap/Hewan pemakan lainnya). 

Alasan yang lebih ilmiah saya kutip dari blog mangyono.com

"waktu yang tepat sebaiknya menebang bambu diatas jam 12 siang, ini dikarenakan pada jam-jam itu kadar air pada batang bambu sudah berkurang. 

hari Selasa dan Sabtu tidak baik untuk menebang bambu, Ini bukan karena hari itu adalah hari kurang baik atau hari sial, akan tetapi ... Pada hari Selasa dan Sabtu bambu pada posisi sedang tumbuh, para pakar berpendapat bahwa pada hari itu bambu kembali muda karena sedang terjadi pertumbuhan sehingga kondisinya lemah maka akan mudah diserang hama.

Tanggal 13, 14 dan 15 bulan dilangait, karena air laut naik hingga batas maksimal sehingga air tanahpun naik, karena bambu adalah akar serabut maka sangat mudah untuk menyerap air dengan demikian kadar gula di dalam batang bambupun meningkat. Dengan kandungan/kadar gula  yang tinggi bambu menjadi mudah diserang hama".

Setelah ditebang batang Bambu dibersihkan dari daun-daunnya, dipotong sesuai ukurang yang diperlukan, dibelah menjadi beberapa bagian, kemudian belahan-belahan bambu tersebut "diraut, Ngaraut" atau terjemahan umumnya barangkali dihaluskan. Bambu yang dibelah tadi dihaluskan permukaannya menggunakan pisau.

Baru kemdian bambu yang sudah dihaluskan permukaannya memasuki tahap penganyaman. Cara menganyamnya ini saya sendiri belum bisa menerangkan secara rinci. Yang jelas cara menganyam ini sekilas nampak seperti merangkai dan menyilang-nyilangkan bambu yang sudah dihaluskan permukaannya tadi, bentuk dan pola anyamannya menyesuaikan barang apa yang akan dibuat.

Keterampilan menganyam yang dimiliki generasi terdahulu barangkali hasil dari tradisi turun temurun, untuk memenuhi perlengkapan/alat dikehidupan sehari-harinya mereka harus memiliki keterampilan mengolah apapun yang disekitarnya menjadi sesuatu yang bisa meringankan atau memudahkan beban kerja ketika itu.

Seperti Hihid yang kita bahas ini, bermula dari batang pohon Bambu yang diolah menjadi sebuah benda sehingga bisa membantu seseorang untuk mendinginkan nasi.

Kemudian pertanyaan, masih perlukah generasi saat ini melestarikan tradisi mengayam ini? jawabannya saya rasa ada dibenak kita masing-masing. 
  
Penulis:
Barnas Rasmana

Kolom Komentar

Previous Post Next Post