Mencari Raden Soekarso, Tokoh Pejuang yang Gugur Ditembus Pelor Belanda

Raden Soekarso | foto. dokumen penulis

Trimulyo, desa yang terletak di wilayah Kec. Sekampung, Kab. Lampung Timur ternyata menjadi saksi dari keganasan “macan loreng” Belanda. Peristiwa berdarah tentang tragedi penembakan tentara Belanda terhadap pejuang Indonesia. Dua pejuang Indonesia gugur, di tanah yang jauh dari hingar bingar keramaian kota. Di tanah itulah keduanya kemudian dikebumikan, menjadi simbol jiwa patriotik demi kemerdekaan tanah air tercinta. Dua sosok itu bernama R. Soekarso dan Samijan.

Tak banyak yang tahu tentang sepak terjang dua tokoh itu. Padahal nama yang tersebut di awal dijadikan sebagai nama jalan di pusat Kota Metro. Namun mengenai perjuangan R. Soekarso hingga ia gugur tertembus pelor tentara Belanda masih sedikit orang yang tahu.

Kami komunitas pegiat sejarah dari Trimurjo, Metro dan Sekampung serta komunitas guru sejarah Lampung Timur pada 9 Januari 2021 mencoba menyelami perjuangan dari R. Soekarso. Kami berkesempatan berkunjung di makam R. Soekarso di desa Trimulyo. Di sini kami tidak banyak mendapatkan informasi mendetail mengenai R. Soekarso. Informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar makam, menyebutkan bahwa Raden Soekarso tertangkap oleh pasukan ‘macan loreng’ Belanda di Bedeng 57 lalu di bawa ke Bedeng 63 atau Trimulyo. Di situlah ia kemudian ditembak mati oleh Belanda. Sementara pada makam tertulis bahwa Raden Soekarso wafat pada tanggal 19 April 1949.

Sedikitnya informasi yang ada sebenarnya adalah sesuatu yang bermakna besar. Kunjungan itu setidaknya menambah motivasi kami untuk mendalami siapakah R. Soekarso dan bagimanakah peranannya pada masa revolusi fisik. Maka lebih lanjut kami mencoba membuka buku-buku sejarah tentang revolusi fisik di Lampung.

Pada buku Sejarah Revolusi Fisik di Provinsi Lampung menerangkan bahwa sebelum peristiwa penembakan berdarah itu terjadi serangkain peristiwa dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia terjadi di wilayah Kawedanaan Metro. Tepatnya pada saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948, daerah Lampung tidak luput dari pergerakan Belanda untuk menguasai daerah di ujung selatan Sumatra itu. Pemerintah Belanda mengerahkan bala tentaranya untuk mengembalikan pemerintahan. Pergerakan pasukan Belanda bukan hanya menyasar Teluk Betung serta daerah di sekitarnya yang menjadi pusat dari pemerintahan Karesidenan Lampung. Akan tetapi Belanda juga mengerahkan pasukannya menuju wilayah Kawedanaan Metro.

Berita kedatangan Belanda di Lampung di awal Januari tahun 1949 lantas mendapatkan respon dari petinggi pemerintahan di Metro. Rapat dilakukan pada 1 Januari tahun 1949 sebagai upaya mempersiapkan segala sesuatu atas kemungkinan jika Metro dikuasai Belanda. R. Soekarso yang menjabat sebagai Kepala Jawatan PU Metro bersama Wedana Metro, Idris Reksoatmodjo menginisiasi terjadinya rapat tersebut. Rapat dilaksanakan di Gedung PU Metro yang dihadiri petinggi pemerintah dan militer di Lampung Tengah khususnya Metro. Hasil rapat memutuskan akan memindahkan pusat pemerintahan jika Metro dikuasai Belanda. Dugaan itu ternyata benar, setelah Metro dikuasai Belanda maka kemudian pemerintahan dipindahkan keluar Metro tepatnya di Bedeng 49, Batanghari. 

Penelusuran mengenai sosok R. Soekarso kemudian mempertemukan kami dengan Ibu Endang, yang merupakan cucu dari R. Soekarso. Lewat komunikasi via whatshapp beliau berbagi informasi mengenai perjuangan R. Soekarso. Walaupun Ibu Endang tidak pernah berjumpa dengan R. Soekarso, namun sosok R. Soekarso yang biasa Ibu Endang sebut dengan istilah Eyang itu banyak didapatkan dari R. Soedarsono. R. Soedarsono merupakan menantu dari R. Soekarso, yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan di Metro.

Memoir R. Soedarsono yang terangkum di dalam artikel bertajuk Sejarah Singkat Makam Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia R. Soekarso tertulis bahwa pada tanggal 7 Januari 1949 dilangsungkan sebuah rapat. Hasil rapat diputuskan pembentukan Pemerintahan Darurat dengan susunan sebagai berikut:

-       Idris Reksoatmodjo (Bupati Perang)

-       Arifin Samil (Penghubung dengan Pemerintahan Darurat di Sukoharjo, Pringsewu)

-       R. Soeroto (Penghubung dengan Seluruh Camat di Kawedanan Metro)

-       R. Soekarso dan Agus Ganda Saputra (Bagian Penerangan dan Agitasi Propaganda)

-       R. Soedarsono (Penggerak Pemuda dan Laskar)

-       Soerowinoto (Ketua Bagian Logistik)

-       Dirjoprawiro (Wakil Ketua Bagian Logistik)

-       Seluruh camat di Kawedanan Metro menjadi camat perang dan diwajibkan memberikan bantuan.

Maka dapat diketahui bahwa di saat perang mempertahankan kemerdekaan, R. Soekarso memiliki peran dalam bidang penerangan serta agitasi propaganda. Peranan penting inilah yang mungkin menjadi alasan bagi Belanda menangkap R. Soekarso. Menarik untuk terus ditelusuri sepak terjang dari tokoh R. Soekarso. Karena dari perjuangan R. Soekarso beserta seluruh pejuang lain dalam mempertahankan kemerdekaan menjadi teladan terkait semangat rela berkorban dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita gelorakan dalam membangun negara ini.

Oleh: Adi Setiawan (Guru SMAN 1 Sekampung, Lampung Timur, Pegiat Sejarah dan Founder Pensil Bersejarah)

Kolom Komentar

Previous Post Next Post