BAGI anda yang
pernah berwisata ke Kota Yogyakarta, pasti pernah mendengar tentang warisan
budaya saujana penataan ruang kota Yogyakarta, berupa garis sumbu imajiner
utara-selatan dari Gunung Merapi-Kraton-Laut Selatan sebagai sumbu primer, dan
sumbu imajiner barat-timur sebagai sumbu sekunder, hingga adanya elemen catur
gatra tunggal pembentuk ruang kota. Penataan ruang tersebut berpegang pada kosmologi
Jawa era Mataram Islam yang banyak mewarisi tradisi dan pandangan Hindu tentang
Jagad Purana, atau tentang kosmik/alam semesta. Kesemuanya berintikan pada
adanya keseimbangan kosmik, baik makro-kosmos maupun mikro-kosmos. Tidak hanya
Yogyakarta, kota-kota tradisional kerajaan Jawa sebelumnya (misal: ibukota
Majapahit, ibukota Mataram Islam di Kotagede, Kartasura, Surakarta) juga
berpegang pada kosmologi ini.
Dalam konteks Metro,
walau secara teknis dan pemerintahan dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia
Belanda, jika ditinjau dari segi penataan ruang pusat kotanya ternyata
menunjukkan kecenderungan kuat mengikuti tata aturan dalam kosmologi Jawa. Hal
ini menjadi menarik, sebab intervensi Belanda sangat jelas dan kuat dalam
perencanaan kota ini, namun tidak menjadikannya ala-ala Eropa modern, tetapi
justru berakar kuat pada budaya yang ada milik kolonis. Meski demikian,
simbol-simbol kolonial tetap ada dan hadir, bahkan melebur menjadi hybrid dalam ruang-ruang kosmologi Jawa
yang ada.
Sejak diresmikan
statusnya menjadi Asisten Kawedanaan Metro di bawah Onderafdeeling Sukadana Karesidenan Lampung, berbagai sumber
sejarah yang ditemukan mengindikasikan bahwa kedepan pemerintah kolonial memproyeksikan
wilayah ini menjadi stadsgemeente
(kota praja). Pusat kota diatur sedemikian tertata dan rapi yang peruntukannya
jelas dan tidak hanya memiliki fungsi pragmatis yang nampak, tetapi juga
memiliki fungsi transendental dan fungsi keseimbangan yang tak tergejala oleh
indera. Catur Gatra Tunggal sebagai bagian dari kosmologi Jawa dalam penataan
ruang, juga ditemukan di Metro. Komplek
Asisten Kawedanaan Metro (politik), Alun-alun Metro (sosial-kemasyarakatan),
lokasi Masjid Agung (religi), Pasar Baroe Metro (ekonomi) berada dalam satu
area konsentris dan dihubungkan oleh koridor berupa jalan. Dalam kosmologi
Jawa, keempat elemen ini akan saling mengontrol satu sama lain, sehingga tidak
ada satu elemen yang mendominasi, dan keseimbangan (equilibrium) akan tercipta.
 |
| Gambar: Rekonstruksi tata ruang pusat Metro dengan elemen Catur Gatra Tunggal yang merupakan bagian dari kosmologi Jawa. Sumber: Citra satelit menggunakan aplikasi Google Earth mode 3D, data diolah pada 15 Desember 2021 |
Tidak hanya
itu, secara morfologi geografis pemilihan letak lokasi pusat kota di bedding 15 juga ditengarai mengikuti
tata letak kota-kota tradisional Jawa seperti ibukota kerajaan Mataram Islam
(Kotagede, Kartasura, Surakarta, Yogyakarta), yang memilih lokasi di tanah
datar (bawera) dan tinggi diantara
dua sungai, lokasi yang dianggap memiliki nilai magis tertentu. Proses
pemilihan lokasi pusat kota ini tentu tidak hanya sekedar faktor perhitungan
matematis saja, tetapi berdasarkan “petunjuk” dari Sang Pencipta mengenai
lokasi yang paling tepat untuk memulai titik peradaban baru. Lokasi pusat Metro
berada diantara dua sungai, Way Bunut di sisi utara dan Way Batanghari di sisi
selatan, keduanya merupakan anak sungai Way Sekampung. Hal ini mengingatkan letak lokasi pusat
Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo yang juga dikelilingi anak-anak sungai
Bengawan Solo; atau pusat ibukota Mataram Islam di Kotagede yang terletak
diantara sungai Gajahwong dan Manggisan; serta Kraton Kasultanan Yogyakarta
yang terletak diantara sungai Code dan Winongo. Fakta menarik juga, lokasi yang
dipilih untuk Alun-alun, lokasi Masjid Agung, dan kediaman Cornelis Bastiaan
van der Leeden sebagai adspirant-controlir
Metro (sekarang rumdin Ketua DPRD Kota Metro) di pusat kota, merupakan titik
tertinggi dari area sekitarnya.
| Gambar: Lokasi ibukota Kolonisasi Sukadana (Metro) yang dibangun diantara sungai Way Bunut di utara dan Way Batanghari di selatan. Tata letak lokasi berada diantara dua sungai, sama seperti lokasi pusat kota kerajaan Jawa. Sumber: Citra satelit menggunakan aplikasi Google Earth mode 3D, data diolah pada 15 Desember 2021 |
Jalan poros
utama empat penjuru mata angin sejati utara-selatan dan timur-barat sebagai
sumbu primer dan sekunder juga ditemukan di Metro dengan lokasi titik Monumen
Peringatan Residen H. R. Rookmaker sebagai titik pusatnya, ini mengingatkan
konsep kosmologi Jawa yaitu sedulur papat
lima pancer. Grid pusat kota berupa koridor jalan membentuk delapan penjuru
mata angin juga dapat diidentifikasi keberadaannya. Delapan penjuru mata angin
dalam penataan ruang kosmologi Jawa kuno diidentikkan dengan Surya Majapahit
bersinar delapan, atau juga delapan dewa penjuru mata angin, yang ketika Islam
mulai berkembang di Nusantara dan menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan Islam
di Jawa, direinterpretasikan menjadi Astabrata. Akan tetapi dalam Astabrata
sifat kepemimpinan dari delapan dewa utama yang ditonjolkan sebagai pedoman
pemimpin, tidak lagi kepada sosok figur dewanya sebagaimana ketika era Hindu. Sifat-sifat
utama pemimpin ini digambarkan harus selalu ada di setiap delapan penjuru,
maknanya adalah dimana pun berada, pengayoman pemimpin harus dapat dirasakan
oleh setiap rakyatnya.
Lalu apakah
pemerintah kolonial tidak hadir secara simbolik dalam tata ruang yang ada ini?,
jelas ada. Bahkan secara simbolik, kolonialisme hadir diantara ruang-ruang
kosmologi yang dianggap sakral itu. Seperti misalnya keberadaan Boulevard Rookmaker yang membelah ruang
kosmologi Komplek Asisten Wedana dengan Alun-alun, Monumen Peringatan Residen
H. R. Rookmaker berdiri dipusat irisan sumbu sakral utara-selatan sebagai sumbu
primer dan sumbu barat-timur sebagai sumbu sekunder, mengontrol dan mengawasi
segala penjuru mata angin. Komplek Asisten Wedana dan Pasar Baroe Metro
dipisahkan oleh Bivak Polisi (sekarang lokasinya menjadi Kantor Walikota
Metro). Lokasi Masjid Agung dan Pasar Baroe Metro yang dikontrol oleh Bivak
Polisi, dan Komplek Perkantoran Waterstaat
(sekarang Komplek Dinas PU, Inspektorat) memotong lokasi Masjid Agung
dengan lokasi Kauman berada, dimana biasanya antara Masjid Agung dengan Kauman adalah
satu kesatuan. Diantara Pasar Baroe Metro dan Komplek Pertokoan Tionghoa (Toko
Baroe Tjiho dst.) berdiri sebuah pom milik Bataafsche
Petroleum Maatchapiij (BPM). Hal ini jelas simbol bahwa antara Tionghoa
dengan pribumi sengaja dipisahkan, tidak diperkenankan membaur secara intens
dan dekat, karena pemerintah kolonial pernah memiliki pengalaman buruk harus
menghadapi perlawanan berat bangsa Indonesia dan Tionghoa yang pernah bersatu
melawan VOC.
 |
| Gambar 00: Kehadiran simbolik pengaruh kolonial (warna biru) diantara ruang-ruang kosmologis catur gatra tunggal dalam tata ruang pusat ibukota Kolonisasi Sukadana (Metro). Sumber: Citra satelit menggunakan aplikasi Google Earth mode 3D, data diolah pada 15 Desember 2021 |
Tidak berhenti
disitu saja, ruang yang subur serta dianggap magis di antara dua sungai juga
ada kehadiran simbolik pemerintah kolonial. Saluran sekunder irigasi melintas
membelah ruang kosmologi antara Way Bunut dan Way Batanghari di pusat kota,
mengalir dari barat ke timur. Semua kehadiran kolonial secara simbolik di
antara ruang kosmologi Jawa di pusat Metro, menunjukkan bahwa pemerintah
kolonial memiliki dominasi kuat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Baik
dari aktivitas kehidupan yang bersifat profan hingga sakral.
 |
| Gambar 00: Aliran Irigasi Sekampung-Bunut yang membelah ruang kosmologi utara-selatan pusat kota yang dibatasi dua sungai besar, yaitu Way Bunut di sebelah utara dan Way Batanghari di sebelah selatan. Aliran irigasi ini sebagai bentuk kehadiran simbolik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sumber: Citra satelit menggunakan aplikasi Google Earth mode 3D, data diolah pada 15 Desember 2021 |
|
Sayangnya,
kajian ketata-ruangan Metro dengan pendekatan historis-kultural belum banyak
dilakukan, baik oleh para ahli Planologi maupun bidang ilmu relevan lainnya. Kajian
warisan tata ruang Metro masih tertinggal jauh dibanding kota-kota bersejarah
lainnya di Indonesia yang telah dikaji dari berbagai perspektif bidang ilmu.
Bahkan pengembangan dan modernisasi perkotaannya telah dilakukan dengan tetap mengambil
inspirasi dan berpegang dari akar sejarah dan budaya yang ada sebagai identitas
warisan leluhurnya. Tanda bahwa mereka masih melanjutkan estafet peradaban
antar generasi juga sebagai legitimasi bahwa mereka adalah generasi penerus.
Apa yang dilakukan pemerintah kolonial dengan merencanakan dan membentuk Metro
sebagai sebuah kota yang berakar kuat pada budaya masyarakat kolonisnya ketimbang
menjadikannya metropolis-modern yang
Eropasentris, seharusnya menjadi ironi sekaligus pengingat bagi kita,
apabila kita masih berpikir bahwa modernitas Barat adalah segala-galanya.
oleh Kian Amboro – Penggiat
Sejarah
Tulisan disarikan
dari: Kian Amboro. Konfigurasi Hybrid; Kosmologi Jawa dan
Hindia Belanda dalam Tata Ruang Ibukota Kolonisasi Sukadana. Kota Metro.
Tahun 2022