Lebaran di Desa: Rindu Suasana Perang Petasan dan Keliling Takbiran

Desa (Pekon) Siliwangi, Senin 2 Mei 2022.

Desa Siliwangi bagi saya adalah tempat yang menjadi alasan untuk mengobati hati kala rindu kampung halaman. Lahir dan besar di desa ini tentu telah banyak sekali kenangan yang berkesan. Tak terkecuali saat momen lebaran.

Masih teringat dengan baik, hal yang dinanti saat menjelang hari raya idul fitri adalah momen takbiran dan ritual perang Petasan. Iya, zaman kini telah banyak berubah. Momen perang petasan dan takbiran keliling kini sudah tak lagi dilakukan oleh anak-anak di sini. Berbeda dengan zaman ketika saya masih kanak-kanak dahulu.

Suasana warga Dusun V Pekon Siliwangi, Pringsewu setelah menjalankan Sholat Idul Fitri di Masjid At Taqwa, Senin (2/5/2022).

Perang petasan, meski itu berbahaya tapi menjadi kebahagian, lebaran tanpa bekal petasan rasanya kurang lengkap. Namun sayang, momen-momen itu tak pernah terabadikan kecuali oleh ingatan. Benda bernama Kamera saat itu sudah ada, tapi masih jadi barang langka. Hanya studio-studio poto yang memilikinya.

Singkat cerita, Siang sebelum malamnya nanti memulai takbiran biasanya saya sudah membuat sepasang pemukul Bedug dari kayu. Pemukul Bedug yang biasa dibuat dari pohon Kopi. Teksturnya keras sehingga tidak gampang pecah dan patah saat semalam suntuk dihantamkam ke kulit Bedug.

Teman sebaya saya saat itu terbilang cukup banyak sehingga untuk menabuh Bedug saja kita harus antri bergantian. Batas bergantiannya adalah sampai anak yang menabuh tangannya lemas dan sudah kehabisan tenaga. Begitu seterusnya, Bedug terus ditabuh mengiringi kumandang takbir, tahlil dan tahmid keluar dari corong TOA.

Sementara ngantri Ngadulag (Memukul Bedug saat Takbiran) dalam bahasa Sunda. Saya isi dengan membunyikan petasan. Mungkin ketika itu saya dan teman-teman tergolong anak usil bin jail. Saat sumbu Petasan sudah dibakar kami tidak melemparkannya ke lokasi yang tidak banyak orang. Tetapi sengaja dilemparkan ke kerumunan anak-anak lain. Sontak hal itu membuat mereka tidak terima dan membalas perbuatan kami dengan hal yang sama. Itulah tanda perang Petasan antar kelompok anak akan dimulai.

Perbuatan yang kami lakukan sudah pasti mengganggu ketentraman lingkungan sekitar. Tak jarang kami dimarahi oleh bapak-bapak lingkungan hingga dikejar-kejar supaya kami bubar. Dan hal yang sampai saat ini saya merasa berdosa adalah manakala Petasan yang saya lemparkan tidak sengaja meledak tepat di atas seorang kakek yang sedang mengendarai sepeda motor, sampai hampir tersungkur.

Kakek ini terkenal sangat galak kepada anak-anak, semua orang di kampung saya segan dan menghormatinya. Ia adalah seorang tokoh di kampung ini. Sementara saya anak yang belum tumbuh bulu ketek apalagi memakai Deodoran lancang melemparnya dengan Petasan. Jujur seketika itu saya lari tunggang langgang, saking ketakutan. Hingga beliau wafat, saya belum sempat meminta maaf dan memberi tahunya bahwa petasan yang meledak di dekat dirinya adalah perbuatan saya. Alfatihah untuk kakek tersebut.

Cerita lain yang tidak kalah membekas di hati adalah momen Takbiran Keliling. Sembari menabuh Bedug dan mengumandangkan Takbir, kami kitari setiap dusun di desa ini. Kalau tiba waktu dini hari, kami berkunjung dari Masjid ke Masjid. Yang ini niatnya bukan takbiran, tapi mencari isi perut. Karena biasanya di jam-jam rawan seperti ini selalu ada warga yang baik hati mengirim makanan ke Masjid. Sengaja dikirim untuk mengganjal perut para jamaah takbir supaya suaranya tetap lantang hingga waktu Shubuh datang.

Zaman nyata-nyata memang telah berubah. Cara merayakan hari raya ini berbeda antara anak-anak dahulu dengan anak-anak sekarang. Anak-anak zaman dulu hampir tidak ada permainan lain selain perang petasan, berebut takjil di Masjid dan keliling takbiran. Namun anak-anak saat ini, bila kita perhatikan wajahnya sudah banyak tertuju pada Gadged. Main medsos hingga game online, sampai-sampai kelopak matanya menghitam.

Suasana Jamaah Sholat Idul Fitri di Masjid AT Taqwa Dusun 5 Pekon Siliwangi, Sukoharjo, Pringsewu-Lampung, Senin (2/5/2022).

Sebenarnya masih ada satu permainan lain yang biasa kami lakukan saat ramadan hingga lebaran, yaitu membunyikan Bedil Lodong atau Jeblukkan. Permainan ini terbuat dari Bambu dengan bahan bakar Minyak Tanah atau pun Karbit. Jika kualitas Bambunya bagus, suara yang dihasilkan bisa sangat menggelegar. 

Bedil Lodong atau Jeblukkan sebagai permainan tradisional ini lambat laun menghilang. Mungkin karena Pohon Bambu sebagai bahan untuk membuatnya sudah sulit didapatkan di desa Siliwangi. Selain itu, Minyak Tanah pun setahu saya sudah tidak dijual di sini, kalaupun ada mungkin sudah sangat mahal, karena pemerintah sudah tidak mensubsidi BBM jenis ini. Seingat saya, Minyak Tanah di tahun 2000an harganya murah, berada dikisaran 1000 rupiah hingga Rp. 1.500 rupiah per liter. Sehingga kami yang masih anak-anak ketika itu mampu membelinya di warung-warung klontong sekitar rumah.

Inilah sepenggal kenangan atau cerita kecil saya di desa Siliwangi. Dan masih banyak kenangan-kenangan lainnya yang ingin saya tulis, yang semata-mata untuk upaya mendokumentasikan bahwa kebiasaan anak-anak generasi 90an hingga awal 2000an masih seperti yang saya sebutkan di atas. Untuk merayakan hari Lebaran kami isi dengan Ngadulag, bermain petasan, takbiran keliling dan bermain Bedil Lodong atau Jeblukkan.

Barnas Rasmana

Pekon Siliwangi, 2 Mei 2022.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post