Situs Rejomulyo: Salah Satu Atribut Jalur Rempah di Lampung
Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung telah lama menjadi pusat perhatian dan kajian oleh para arkeolog dan sejarawan karena banyaknya temuan yang menunjukkan adanya jejak peradaban Lampung lampau. Setidaknya riset Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) sejak tahun 1992-1996 berhasil mengidentifikasi sedikitnya 16 situs di DAS Way Sekampung yang tersebar dari hulu hingga hilir. Selanjutnya pada tahun 1997-1998 Balai Arkeologi Jawa Barat (Balar Jawa Barat) yang melakukan riset di DAS Way Sekampung, melaporkan adanya jejak lintas perdagangan dan pelayaran Nusantara bahkan internasional, yang ditemukan di beberapa situs, diantaranya Situs Tridadi, Situs Sidomukti, dan Situs Karyamukti ketiganya di wilayah Sekampung, dan Situs Rejomulyo di wilayah Metro.
![]() |
| Gambar DAS Way Sekampung via Google Earth | Kian Amboro |
Berbagai data yang diperoleh berupa fragmen keramik asing, tembikar, manik-manik, cincin batu, dan mata uang VOC, menguatkan adanya jejak lintas perdagangan dan pelayaran Nusantara bahkan internasional (Prijono, 2021). Pada tahun 2017 dan 2021 ringkasan dari laporan riset arkeologi itu kemudian dipublikasikan oleh penelitinya dengan judul “Way Sekampung dalam Lintas Perdagangan dan Pelayaran Nusantara” ke dalam sebuah buku kumpulan publikasi hasil riset yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sugiharta, 2021).
Menariknya, dalam publikasi riset itu wilayah Metro disebut sebagai salah satu lokasi riset yang juga dijumpai temuan yang mengindikasikan adanya jejak perlintasan perdagangan dan pelayaran Nusantara bahkan internasional seperti halnya di beberapa situs lainnya. Dalam publikasi hasil riset arkeologi tersebut, disebutkan adanya temuan di Situs Rejomulyo yang berlokasi di koordinat 5°10’24”LS, 105°24”BT (nama “Rejomulyo” kala itu adalah nama sebuah desa di Metro bagian selatan yang berbatasan langsung dengan DAS Way Sekampung, yang kemudian digunakan sebagai nama situs). Hasil temuan diantaranya berupa fragmen keramik asing, tembikar, manik-manik, cincin batu, dan mata uang VOC. Setelah diidentifikasi dan dianalisisis, morfologi temuan menunjukkan berbagai fragmen tersebut berasal dari bentuk vas, mangkuk, piring, cepuk, tempayan, guci, botol yang berasal dari Tiongkok, Vietnam, dan Thailand. Fragmen keramik asing yang telah berhasil ditera penanggalan relatifnya, menunjukkan bahwa fragmen tersebut berasal dari dinasti Ming dan Ching (abad 16-17 M) (Prijono, 2021).
Adanya temuan Situs Rejomulyo, di wilayah Metro bagian selatan oleh peneliti Balar Jawa Barat antara tahun 1997-1998 ini, tentu sangat mempengaruhi historiografi sejarah lokal Metro. Sebab hasil temuan yang ditera berasal dari abad 16-17 M tersebut, jelas menunjukkan bahwa jauh sebelum abad ke-20 (1935 – Era Kolonisasi Penduduk Jawa), di ruang Metro lampau telah dan pernah ada aktivitas manusia yang sangat signifikan, bahkan bisa disebut “jejak peradaban” karena diindikasikan telah terjalin hubungan lintas perdagangan dan pelayaran Nusantara hingga internasional di wilayah ini. Sayangnya, publikasi peneliti Balar Jawa Barat tersebut hanya menjelaskan temuan artefak/benda hasil budaya dalam batasan identifikasi dan analisis dimensi, atribut (bentuk, ukuran, teknologi, waktu pembuatan, gaya, dll.) serta konteks ekofaknya; dan tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana konteks sosial-budaya-ekonomi jalur perdagangan dan pelayaran Nusantara tersebut.
Untuk membangun makna atas berbagai temuan arkeologis tersebut, maka kehadiran penjelasan sejarah (historical explanation) diperlukan agar semakin jelas konteks sosial-budaya-ekonominya, dan dalam kerangka apa berbagai benda hasil budaya itu hadir serta eksis di ruang temuannya (situs). Jika tidak, maka berbagai temuan benda kuno tersebut hanya akan dianggap “sampah/rongsokan” sisa aktivitas manusia lampau. Dan untuk menemukan penjelasan sejarah terhadap berbagai temuan di berbagai situs itu, mari kita coba membuka kembali lembaran sejarah Lampung sekitar abad 16-17 M (sesuai hasil tera waktu para arkeolog), untuk melihat apa yang terjadi kala itu.
Anthony Reid seorang sejarawan Asia Tenggara menjelaskan bahwa abad 15-17 M merupakan kurun waktu dimana kawasan Asia Tenggara memasuki puncak era perniagaan (The Age of Commerce), hal ini dijelaskan dalam dua buah bukunya yaitu Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Hubungan perniagaan antarbangsa ini sesungguhnya telah lama berlangsung sampai dengan abad ke-15 dimana era klasik mulai berakhir (yang ditandai dengan runtuhnya negara-negara bercorak Hindu-Budha), dan mulai menguatnya negara-negara bercorak Islam serta masuknya para pedagang Barat. Rempah kala itu menjadi salah satu komoditi perdagangan yang begitu penting, bahkan jauh sebelum para pedagang Barat tiba untuk mencarinya pada abad ke-16.
Lampung kala itu adalah salah satu daerah penghasil rempah, khususnya cengkeh (Syzygium aromaticum) dan lada (Piper ningrum). Hubungan dagang Lampung dengan Tiongkok tercatat dimulai sejak abad ke-6 M, bahkan hingga abad 15-16 M Tiongkok merupakan konsumen terbesar lada Nusantara, termasuk lada yang berasal dari Lampung (Swantoro, 2019). Pada tahun 1552 atau abad ke-16 M Kesultanan Banten berdiri, dan Lampung menjadi salah satu wilayah di bawah pengaruh Kesultanan Banten tersebab politik persaudaraan, sebagaimana yang ditulis dalam prasasti Dalung Kuripan (Hakiki et al., 2020). Posisi yang strategis dan Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis pada 1511, turut mendorong Banten tumbuh menjadi kota pelabuhan besar abad 16-17 M. Pelabuhan Banten menjadi muara dan pusat transaksi rempah-rempah khususnya lada yang menjadi komoditi utamanya, selain beras dan jahe untuk kawasan Nusantara bagian barat setelah Malaka.
Lada yang diperjualbelikan di pasar pelabuhan Banten berasal dari petani pedalaman, termasuk Lampung. Penjualan lada Lampung ke pasar pelabuhan Banten terjadi bahkan sebelum Kesultanan Banten berdiri, hal ini ditulis dalam catatan perjalanan (reis verhalen) Tome Pires pada tahun 1513. Lada Lampung sampai di pasar pelabuhan Banten tidak dibawa sendiri oleh para petani lada, melainkan melalui para pedagang perantara. Peran pedagang perantara dijalankan oleh orang-orang Tiongkok (Fadillah et al., 2021). Mereka masuk menyusuri muara sungai hingga ke pedalaman termasuk anak-anak sungai. Lada dibeli langsung dari para petani dengan alat tukar baik itu berupa mata uang picis maupun benda-benda seperti porselen dalam berbagai bentuk. Saat itu porselen Tiongkok termasuk barang mewah berharga tinggi, dan segantang lada dapat ditukarkan dengan beberapa porselen. Melalui jalan inilah porselen Tiongkok dibawa masuk ke pemukiman pedalaman Lampung di tepi-tepi sungai oleh para pedagang perantara, dan kini jejaknya ditemukan berupa fragmen atau pecahan keramik di berbagai situs di DAS Way Sekampung.
Setelah lada dibeli dari petani, para pedagang perantara akan membawanya ke pelabuhan terdekat di daerah pesisir sebelum dibawa ke pasar rempah lebih besar di pelabuhan Banten. Sesampainya di pelabuhan Banten para pedagang perantara Tiongkok ini akan menjual lada ke pedagang Tiongkok yang lebih besar lagi, dan juga kepada para pedagang Eropa yang ketika abad ke-16 mulai singgah di Banten.
Setelah VOC terbentuk pada awal abad ke-17, persekutuan dagang ini mulai berkeinginan menguasai pasar rempah di pelabuhan Banten. Akhirnya VOC dapat menguasai Kesultanan Banten melalui celah konflik internal antara Sultan Sepuh dengan Sultan Haji dan menjadikan VOC berkuasa secara de facto. Mulanya VOC pernah mencoba untuk membeli lada langsung kepada para petani di pedalaman, tetapi berujung hasil yang sedikit bahkan nyaris tanpa hasil. Hal ini disebabkan karena para petani lada lebih mempercayai pedagang Tiongkok ketimbang Belanda, dan hubungan dagang para petani lada dengan para pedagang perantara Tiongkok telah terjalin sejak lama. Bahkan ketika Lampung mulai berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten, pihak penguasa Banten tidak pernah menghapuskan sistem ini. Sebab para pedagang Tiongkok mampu hadir dan bersimbiosis dengan baik. Hingga kemudian akhirnya VOC tetap memanfaatkan para pedagang Tiongkok ini untuk mendapatkan lada dari para petani di pedalaman.
Memasuki abad ke-17 hubungan Lampung dengan Banten kemudian mulai berubah, yang semula sebagai wilayah yang disatukan oleh hubungan persaudaraan, berubah menjadi hubungan patron-klien atau antara penguasa dengan yang dikuasai. Hal ini tertulis jelas dalam prasasti Dalung Bojong yang dikeluarkan oleh Sultan Banten, yang memuat kewajiban-kewajiban rakyat Lampung untuk menanam lada beserta daftar aturan berikut sanksi bagi para pelanggarnya (Guillot, 2008; Wijayati, 2011). Berubahnya hubungan ini tentu tidak dapat dilepaskan dari hasil perjanjian Sultan Haji untuk menyerahkan daerah lada di Lampung dan tanah-tanah lainnya kepada VOC yang telah membantunya merebut kekuasaan. Hasilnya adalah Sultan tetap merupakan orang pertama yang berhak membeli lada dari rakyat (penghubung antara rakyat dengan Kompeni), dan VOC adalah pemegang monopoli pembelian lada dari penguasa Banten (Untoro, 2007).
Untuk menjalankan monopoli ini, sebagai penentu harga maka VOC membuat sendiri standar nilai tukar lada demi keuntungannya, dan mata uang VOC digunakan sebagai alat tukarnya. Dengan tetap memanfaatkan para pedagang perantara Tiongkok untuk membeli lada dari para petani sekaligus sebagai penarik pajak, maka mata uang VOC beredar secara luas dalam transaksi lada yang hanya menguntungkan satu pihak itu, dan VOC menjadi penguasa Banten sesungguhnya daripada Sultan yang ketika itu mulai menjadi boneka dan kebebasannya mulai terbatas. Maka melalui cara inilah koin-koin mata uang VOC masuk ke pedalaman Lampung, dan kini jejaknya dijumpai diberbagai situs di sepanjang DAS Way Sekampung.
Sampai dengan tahun 1682 lada Lampung mendominasi pasar rempah di pelabuhan Banten, sebagaimana yang tercatat dalam dagh-register tanggal 14 Januari 1682: “sejak Januari hingga Desember, di Banten dan di berbagai tempat lain, tiba 755 perahu layar, yang mana 373 diantaranya tidak membawa lada. Sementara lainnya diketahui membawa 11.000 bahar lada dari Lampung, 3.310 bahar dari Silebar dan 100 bahar dari Sukadana” (Swantoro, 2019). Dapat disadari bahwa Lampung memainkan peran penting dalam Jalur Rempah Nusantara sebagai pemasok komoditi perdagangan rempah dunia di Banten ketika itu. Wilayah pedalaman sama pentingnya sebagai titik-titik simpul Jalur Rempah sebagaimana titik-titik pelabuhan di pesisir sebagai tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Baca juga: Situs Rejomulyo: Petunjuk Adanya Pemukiman Awal di Metro Selatan
Dalam hal ini teori geografis turut menjelaskan adanya dua model perniagaan rempah, yakni model political system dan model transactional system (Fadillah, 2021). Model yang pertama, bahwa jaringan pertukaran di pesisir berada dalam kendali agen penguasa di muara sungai. Kedua, model yang menjelaskan bahwa perdagangan rempah dilakukan di dataran sungai yang berorientasi ke pesisir memfasilitasi kontak antara petani sebagai pedagang lokal dengan pedagang asing. Model pertama menjelaskan posisi Banten sebagai pelabuhan besar berikut jaringan pelabuhan-pelabuhan kecil lainnya yang dikuasai Banten secara politik. Model kedua menjelaskan posisi titik-titik pemukiman para petani lada dalam jaringan sungai yang juga merupakan pasar transaksi rempah awal di pedalaman.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sekarang dapat dipahami bagaimana situs-situs dengan berbagai temuan yang diteliti oleh Puslit Arkenas dan Balar Jawa Barat di DAS Way Sekampung itu memainkan peran pada masanya sebagai titik-titik simpul dan atribut Jalur Rempah Lampung di pedalaman, termasuk Situs Rejomulyo di wilayah selatan Metro. Jika penjelasan sejarah ini diyakini, maka menjadi konsekuensi logis bahwa lingkungan sekitar Situs Rejomulyo dahulunya merupakan ladang-ladang tanaman lada milik pemukim awal, yang menghasilkan lada yang telah berkeliling dunia dibawa oleh para pedagang-pedagang Tiongkok maupun Eropa. Premis ini juga ingin menjelaskan bahwa ruang Metro jauh sebelum abad ke-20 ternyata tidak hanya sekedar ruang kosong tanpa aktivitas manusia, dan wilayah pedalaman Lampung tidaklah “sesepi” yang dibayangkan. Wilayah pedalaman dan pesisir sama pentingnya dalam memainkan perannya masing-masing dan saling bersinergi menciptakan peradaban manusia yang kompleks.
Kian Amboro – Pegiat Sejarah
