Di atas adalah kondisi terakhir Jembatan Tegineneng dalam keadaan utuh yang terekam kamera sebelum hancur dalam rangkaian perlawanan Agresi Militer Belanda II di Keresidenan Lampung tahun 1949. Arsip foto tersebut bertitimangsa 15 Januari 1949, menunjukkan Jembatan Tegineneng sebagai salah satu jembatan yang masih baik kondisinya dan belum dihancurkan oleh para pejuang republik dimana pada saat itu banyak infrastruktur penting telah banyak rusak dan dibumihanguskan oleh pejuang agar tidak dimanfaatkan oleh Belanda. Nampak dalam arsip foto, Jembatan Tegineneng dijaga masing-masing oleh dua orang serdadu NICA dari dua arah berbeda (dari arah Telukbetung dan arah Metro).
Tentara NICA yang datang membonceng Sekutu mendarat di Pelabuhan Panjang (Lampung) pada 1 Januari 1949, merespon hal tersebut para pejuang republik melakukan berbagai cara sebagai bentuk perlawanan, diantaranya menghambat laju gerak musuh yang berupaya merebut kembali dan menduduki pusat-pusat pemerintahan dan pertahanan militer di Keresidenan Lampung. Tak terkecuali Metro dan Kotabumi sebagai dua titik penting pemerintahan dan pertahanan di Front Utara. Jembatan Tegineneng menjadi infrastruktur penghubung penting menuju Metro dari ibukota keresidenan Telukbetung, juga jatuh dalam penguasaan Belanda pada pekan pertama 1949.Pada akhirnya Jembatan Tegineneng tetap berhasil dihancurkan oleh para tentara pejuang republik untuk menghambat laju gerak musuh selama rangkaian perlawanan terhadap Belanda antara akhir Januari-Februari 1949 di Metro dan sekitarnya. Masa-masa ini banyak terjadi pertempuran sporadik dalam skala besar dan kecil yang lebih banyak memakan korban jiwa dari pihak Indonesia karena kondisi yang tak seimbang. Terlebih dalam beberapa pertempuran besar kala itu di Kampung Tempuran Trimurjo, Kampung Gantiwarno Pekalongan, Kampung Rejoagung Batanghari, hingga pengejaran para pejuang republik oleh serdadu Belanda di Sekampung. Membalas perlawanan ini, Belanda tak hanya membakar rumah-rumah penduduk saja, tetapi saluran irigasi yang bersumber dari Bendung Argoguruh yang berlokasi berdekatan dengan Jembatan Tegineneng ditutup oleh Belanda, sehingga pasokan air menuju Metro, Pekalongan, Batanghari, dan Sekampung mati dan terhenti total.
Kini bagian tiang pancang penyangga jembatan lama masih bisa dilihat jejaknya. Berada tepat di sisi tenggara jembatan baru di Tegineneng atau sisi barat laut Bendung Argoguruh (1935). Reruntuhannya kini menjadi dead monument yang tetap menyimpan memori penting. Ia dibangun atas nama kesejahteraan dan dihancurkan atas nama perjuangan kedaulatan. Kini ia teronggok, tak lagi berguna, dan terabaikan. Dipenuhi sampah serta belukar dan tak dihirau oleh para pelintas yang kini berlalu lalang. Tak diingat, dilupakan, bahkan tak dikenal, meski hanya sekedar ingatan cerita tentangnya.
Oleh: Kian Amboro, Dosen Pendidikan Sejarah UM Metro
Narasi diolah dari berbagai sumber.
Sumber arsip: Nationaal Archief, Den Haag. Nummer archief 2.24.04.03
Oleh: Kian Amboro, Dosen Pendidikan Sejarah UM Metro
Narasi diolah dari berbagai sumber.
Sumber arsip: Nationaal Archief, Den Haag. Nummer archief 2.24.04.03
