Meretas Batas di Bawah Atap Langit Jelambar


Oleh: Abid Nurhuda
Mahasiswa Doktoral Universitas PTIQ Jakarta
Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI)


Jalur aspal yang membelah kawasan Petojo, Jakarta Pusat, siang itu tampak berkilau diterpa terik matahari, Selasa (9/6/2026). Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB ketika sebuah bus berwarna kuning cerah (Bus Kuning PKU) menderu halus di depan pintu gerbang asrama. Di sana, sebuah lanskap kemanusiaan yang unik sedang terjalin. Sejumlah mahasiswa program Doktoral (S3) Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) Angkatan 7 tampak berkumpul. Mereka tidak sedang bersiap menghadapi ujian eksemplar teologis di dalam ruang kelas yang sunyi, melainkan bersiap melakukan sebuah "migrasi epistemologis" menuju sebuah ruang sakral yang berbeda tradisi.

Berdiri di antara mereka dosen pengampu Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si yang membimbing dengan pandangan teduh dan sigap memastikan manifes perjalanan, serta seorang lelaki paruh baya di balik kemudi yang akrab disapa Pak Rudi (Sopir Bus Kuning PKU). Siang itu, rombongan akademisi menara gading ini hendak melintasi batas geografis dan teologis menuju jantung Jakarta Barat, tepatnya ke Majelis Tao Indonesia yang terletak di kawasan Jelambar. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan lapangan biasa, melainkan sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual untuk membaca "Yang Lain" (the other) langsung dari sumbernya, sebuah manifestasi nyata dari kajian lintas agama yang melampaui teks-teks normatif.

Keberangkatan dari Petojo

Ketika pintu bus kuning itu tertutup dengan ketukan pneumatik yang khas, roda pun berputar meninggalkan gerbang Asrama Petojo. Di dalam kabin bus, atmosfer akademik yang biasanya formal segera mencair menjadi ruang diskusi yang hidup namun santai. Jakarta siang itu, dengan segala kerumitan lalu lintasnya, menjadi latar belakang dari sebuah pencarian makna.

Di barisan depan, koordinasi antarmakhluk hidup terjadi secara natural. Kota yang terus bertumbuh acap kali mengubah kontur dan arah jalan, membuat ingatan manusia harus berkompromi dengan teknologi. Di sinilah interaksi humanis itu bermula: dosen, mahasiswa, dan Pak Sopir saling berdiskusi hangat seraya membuka aplikasi Google Maps di layar pintar smartphone mereka. Layar digital yang berpendar kebiruan itu menjadi pemandu, menunjukkan rute terbaik menembus kemacetan Jakarta menuju Jelambar. Pak Sopir mendengarkan dengan takzim instruksi navigasi yang dibacakan oleh seorang mahasiswa di belakangnya, sementara di kursi belakang, sayup-sayup terdengar perbincangan mengenai konsep ruang sakral dalam berbagai peradaban.

"Belok kanan setelah jembatan ini, Pak," tutur salah seorang mahasiswa seraya memperlihatkan peta digital.

"Siap, Mas. Untung ada peta ini, jalur Jelambar sering kali berubah satu arah kalau jam makan siang," balas Pak Sopir dengan senyum khasnya.

Dalam perspektif kajian lintas agama, peristiwa sederhana di dalam bus ini menyimpan metafora yang mendalam mengenai teologi perjalanan (theology of journey). Google Maps dalam konteks ini adalah simbol dari "metodologi". Untuk mencapai suatu tujuan teologis atau sosiologis dalam masyarakat yang plural, manusia membutuhkan alat bantu bimbingan yang disepakati bersama. Dialog antara teolog (dosen dan mahasiswa) dengan praktisi lapangan (Pak Sopir) mencerminkan bahwa kebenaran sosiologis tidak bisa dirumuskan secara soliter di dalam perpustakaan. Ia membutuhkan interaksi, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan kesediaan untuk dituntun oleh realitas lapangan. Islam mengajarkan konsep safar sebagai media untuk tadabur alam dan masyarakat. Perjalanan dari Petojo ke Jelambar ini adalah bentuk safar ilmiah, di mana setiap jengkal tanah yang dilalui adalah lembaran kitab suci alam semesta yang sedang dibaca secara bersama-sama.


Gerbang Merah Jelambar

Bus Kuning PKU akhirnya memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan bangunan Majelis Tao Indonesia di Jelambar, Jakarta Barat. Kontras arsitektural langsung menyergap indra penglihatan. Di tengah pemukiman kota yang padat, berdiri sebuah bangunan dengan karakter yang kuat. Simbol yang paling mencuri perhatian pertama kali adalah pintu depan yang dibalur warna merah menyala, sebuah warna yang dalam kosmologi Tionghoa melambangkan kehidupan, keberuntungan, dan energi vital.

Rombongan melangkah turun dari bus. Dibimbing oleh dosen pengampu (Prof. Ikhsan) yang berjalan di baris depan, para mahasiswa S3 PKUMI melangkah masuk melewati pintu merah tersebut. Langkah kaki mereka mantap namun penuh takzim. Mereka melaju lurus menyusuri koridor lantai dasar, sebelum akhirnya diarahkan untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua, yang merupakan ruang peribadahan utama umat Tao.

Di lantai dua, keheningan yang subtil segera menyelimuti. Aroma harum dupa (hiopo) yang tipis mengambang di udara, menciptakan distingsi yang jelas antara hiruk-pikuk jalanan Jelambar dengan ketenangan ruang altar. Di sanalah, berdiri seorang figur yang telah menanti dengan jubah khas dan senyuman yang merekah tulus. Beliau adalah Taosu Agung Kusumo, seorang pembimbing spiritual (tour guide sekaligus pemuka agama) yang siang itu bertindak sebagai tuan rumah teologis bagi para calon doktor Islam ini. Perjumpaan di lantai dua ini menandai dimulainya dialog tatap muka yang jujur dan mendalam.

"Selamat datang para sahabat, para calon ulama yang mulia," sambut Taosu Agung Kusumo seraya merapatkan kedua telapak tangannya di dada, sebuah gestur penghormatan khas yang universal.

Secara semiotika, pintu merah dan penyambutan di lantai dua ini mengajarkan kita tentang konsep Adab al-Dhiyafah (etika menerima dan bertamu) dalam perspektif lintas iman. Dalam Islam, menghormati tamu adalah bagian dari manifestasi keimanan. Hal yang sama kita temukan dalam ajaran Tao, di mana penyambutan hangat kepada pencari ilmu adalah bentuk penyelarasan diri dengan alam (Dao). Lantai dua sebagai ruang peribadahan mengajarkan sebuah hierarki spiritual bahwa manusia perlu "naik" dari level keduniawian (lantai dasar) menuju level kontemplasi (lantai atas) untuk bisa menangkap getaran-getaran ketuhanan. Pertemuan antara jubah akademik ulama dan jubah spiritual Taosu di ruang altar ini meruntuhkan dinding-dinding kecurigaan yang sering kali dibangun oleh ketidaktahuan. Di sini, pelajaran pertamanya adalah al-insanu aduwwu ma jahil (manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya), dan cara terbaik meruntuhkannya adalah dengan datang dan saling bertatap muka.


Di Depan Altar Tao

Taosu Agung Kusumo kemudian mengajak rombongan S3 PKUMI untuk melangkah lebih dekat ke area peribadahan utama. Di hadapan altar yang megah, di mana lilin-lilin besar menyala dengan api yang stabil, sang Taosu mulai menjabarkan secara rinci riwayat dan ritme ritual peribadahan umat Tao.

Beliau menjelaskan bahwa ritual dalam ajaran Tao bukan sekadar gerakan mekanis, melainkan sebuah upaya kosmis untuk menyelaraskan energi mikro (manusia) dengan energi makro (alam semesta). Taosu Agung membeberkan bagaimana ritual harian dilakukan secara tekun setiap pagi dan malam, serta bagaimana atmosfer ritual itu berubah menjadi sangat kolosal dan penuh khidmat ketika hari-hari besar keagamaan tiba seperti perayaan hari lahir para Dewa (Sejit) atau perayaan pergantian tahun.

Mata para mahasiswa yang terbiasa menelaah teks-teks rumit kitab turats tampak berbinar penuh minat ketika Taosu Agung mulai mengupas makna di balik simbol-simbol familiar yang terpampang di klenteng tersebut. Di atas altar, terdapat patung-patung (Kimsin) yang dirawat dengan sangat bersih. Taosu Agung dengan sangat hati-hati dan filosofis menjelaskan penafsiran teologis mengenai patung-patung tersebut dan bagaimana konsep "Tuhan" dalam pandangan Taoisme sesungguhnya dipahami.

"Bagi kami di dalam ajaran Tao," jelas Taosu Agung Kusumo seraya menunjuk ke arah simbol tertinggi di altar, "Tao itu sendiri tidak berwujud, tidak bernama, dan mendahului segala sesuatu. Patung-patung yang Anda lihat di sini bukanlah Tuhan dalam arti zat yang menciptakan semesta secara antropomorfik, melainkan representasi dari nilai-nilai luhur, sifat-sifat suci, dan personifikasi dari para guru besar atau manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritualitasnya sehingga mereka menyatu dengan Dao."

Rombongan kemudian diajak berkeliling, menyisir setiap sudut ruang peribadahan. Taosu Agung membeberkan fungsi dari masing-masing sudut altar, di mana tempat untuk meletakkan sesaji, apa makna fungsional dari alat musik ritual seperti lonceng dan gendering kulit, serta area mana saja yang dikhususkan untuk meditasi sunyi bagi para penganut yang ingin menjauhkan diri dari kebisingan batin.

Penjelasan Taosu Agung mengenai konsep Dao (Tao) sebagai prinsip utama yang tak berwujud dan tak bernama memiliki kemiripan epistemologis yang sangat memukau dengan kajian sufistik dalam Islam, khususnya konsep Wujud Mutlak atau Dzat yang Tanzih (Maha Suci dari segala penyerupaan) dalam pemikiran Ibnu Arabi atau Syekh Siti Jenar. Dalam kajian lintas agama, pemahaman ini sangat krusial. Sering kali, pengamat luar terjebak dalam kesimpulan permukaan bahwa Taoisme adalah politeisme naif yang menyembah patung. Namun melalui dialog langsung ini, para calon doktor ulama mendapati bahwa di balik eksoterisme (tampilan luar) patung-patung tersebut, terdapat esoterisme (makna dalam) yang sangat monistik-spiritual.

Pelajaran penting di sini adalah pembedaan antara Idol (berhala yang disembah demi materi patung itu sendiri) dan Icon (simbol visual yang digunakan sebagai medium pengingat menuju yang Transenden). Meskipun Islam secara tegas melarang representasi visual Tuhan dalam bentuk patung untuk menjaga kemurnian tauhid, memahami cara pandang tradisi lain membantu para ulama untuk tidak gegabah dalam menghakimi. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana setiap agama memiliki "bahasa visual"nya sendiri dalam mengekspresikan kerinduan spiritual kepada Yang Mutlak.

Perjamuan Makan Siang

Setelah energi intelektual terkuras dalam diskusi teologi yang mendalam di ruang altar, Taosu Agung Kusumo dengan raut wajah penuh kegembiraan mengajak rombongan untuk beristirahat sejenak menuju ruang perjamuan. Di sana, sebuah kejutan kultural telah menanti. Di atas meja panjang, telah tertata dengan rapi berbagai hidangan lokal khas Indonesia yang sangat familiar di lidah seperti sayur asem dengan kuah beningnya yang segar, ayam goreng yang kecokelatan, sambal lalapan yang merah merona, nasi putih yang masih mengepulkan uap hangat, serta aneka botol minuman penyegar.

Tidak ada sekat yang tersisa siang itu. Mahasiswa S3, dosen pengampu, staf Taosu, dan Taosu Agung duduk melingkar dalam satu frekuensi kemanusiaan. Santapan siang itu dinikmati dengan penuh sukacita. Rasa asam, pedas, dan gurih bercampur menjadi satu, seolah merayakan keragaman yang ada di dalam ruangan tersebut.

Di sela-sela denting sendok dan garpu, perbincangan tidak lantas berhenti. Justru di atas meja makan inilah dialog organik yang paling indah terjadi. Sambil sesekali mengunyah hidangan, para mahasiswa PKUMI dan dosen terlibat dalam obrolan mendalam namun santai dengan Taosu Agung mengenai sejarah masuknya ajaran Tao ke Indonesia, bagaimana ajaran ini beradaptasi dengan kebudayaan lokal Nusantara, serta titik-temu nilai-nilai moralitas Tao (seperti konsep Wu Wei atau tindakan tanpa pamrih) dengan konsep Ikhlas dan Tawakal dalam khazanah Islam.

"Sayur asem ini benar-benar menyegarkan, Taosu," ujar dosen pengampu seraya tersenyum. "Sama seperti dialog kita hari ini, perpaduan berbagai rasa yang melahirkan keharmonisan."

"Betul, Prof," sahut Taosu Agung sambil tertawa kecil. "Agama-agama mungkin punya baju yang berbeda, tetapi ketika berbicara tentang kebaikan, moralitas, dan rasa lapar manusia baik lapar fisik maupun batin kita semua sama."

Perjamuan makan siang ini adalah manifestasi sempurna dari apa yang dalam studi dialog antariman disebut sebagai Dialogue of Life (Dialog Kehidupan Sehari-hari). Dialog terbaik sering kali tidak terjadi di podium konferensi internasional, melainkan di sekitar meja makan. Makanan adalah bahasa universal kemanusiaan. Ketika umat Muslim dan penganut Tao duduk bersama menyantap makanan yang halal dan disiapkan dengan penuh penghormatan, terjadi sebuah proses "humanisasi atas yang lain".

Sayur asem yang dinikmati bersama menjadi simbol kosmopolitanisme local yakni hidangan kultural yang melintasi batas etnis dan agama. Dalam kajian lintas agama, momen ini mengajarkan bahwa keramahtamahan meja makan memiliki kekuatan magis untuk meruntuhkan tembok prasangka. Di sini para calon ulama belajar bahwa sebelum kita memperdebatkan teks-teks eskatologis tentang surga dan neraka, kita harus terlebih dahulu belajar bagaimana hidup bersama sebagai sesama ciptaan Tuhan di atas bumi ini, saling berbagi rezeki dan tawa.

Rumah Abu di Lantai Satu

Setelah perjamuan makan siang yang menghangatkan batin selesai, perjalanan epistemologis ini berlanjut ke fase yang lebih kontemplatif. Taosu Agung Kusumo mengarahkan rombongan menuju lantai satu bangunan. Ruangan ini memiliki fungsi yang sangat berbeda dengan ruang altar di lantai dua. Ini adalah Rumah Abu, tempat di mana memori, sejarah, dan penghormatan kepada leluhur dilembagakan dalam kotak-kotak kecil berisi abu jenazah dan papan nama (Hio-lo).

Di pintu masuk Rumah Abu, rombongan disambut oleh seorang penjaga ruangan yang penampilannya bersahaja namun memancarkan ketenangan. Penjaga tersebut mengangguk takzim, mempersilakan para akademisi Islam ini untuk menapak masuk ke dalam ruang yang sunyi dan sarat akan refleksi eskatologis.

Di bawah bimbingan Taosu Agung yang tak lelah menjelaskan, para mahasiswa mulai menelisik setiap detail artefak yang tertata di sana. Suasana di lantai satu ini terasa magis dan mendalam. Taosu Agung menjelaskan secara terperinci mengenai filosofi pemakaman dalam tradisi Tao, konsep-konsep mengenai perjalanan jiwa di alam akhirat, serta bagaimana simbol-simbol kosmologi termasuk rasi bintang dan lingkaran shio (zodiac Tionghoa) yang digunakan untuk membaca karakter manusia serta hubungannya dengan takdir alam semesta.

Mahasiswa S3 PKUMI tampak mengamati papan-papan nama leluhur yang berjajar rapi. Di dinding ruangan, lukisan dan relief mengenai gambaran pengadilan akhirat versi kosmologi Tao terpampang dengan detail yang kuat, menunjukkan konsekuensi dari setiap perbuatan manusia selama hidup di dunia.

"Di Rumah Abu ini, kami tidak sekadar menyimpan sisa fisik manusia," urai Taosu Agung dengan nada suara yang merendah, penuh takzim. "Tempat ini adalah pengingat bagi kami yang masih hidup bahwa kita berasal dari leluhur, dan kita semua akan kembali ke keheningan. Rasi bintang shio yang ada di langit-langit ini adalah peta kosmis yang mengingatkan bahwa manusia terikat pada hukum waktu dan keseimbangan alam."

Kunjungan ke Rumah Abu di lantai satu ini membawa para calon doktor ulama pada sebuah perenungan teologis yang sangat fundamental yakni Dzikrul Maut (mengingat kematian). Dalam tradisi Islam, mengingat kematian adalah obat terbaik bagi kesombongan hati. Melihat bagaimana umat Tao memperlakukan abu leluhur mereka dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang membuka perspektif baru tentang konsep Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua) yang melampaui kematian.

Dalam kajian lintas agama, fenomena penghormatan leluhur dalam Taoisme sering kali disalahpahami sebagai penyembahan berhala baru. Namun, jika dibedah dengan kacamata antropologi agama, tindakan ini memiliki kemiripan fungsional dengan tradisi Ziarah Kubur, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta pengiriman doa bagi orang yang telah wafat dalam tradisi Islam kultural (seperti Nahdlatul Ulama). Kedua tradisi sama-sama meyakini bahwa hubungan kasih sayang antara anak dan orang tua tidak boleh diputus oleh tabir kematian.

Lebih jauh lagi, visualisasi tentang pengadilan akhirat dan rasi bintang shio di Rumah Abu ini menegaskan sebuah kesepakatan universal di antara agama-agama bahwa alam semesta ini memiliki tatanan moral. Setiap tindakan manusia memiliki gaung eskatologis yaitu kebajikan akan berbuah kebahagiaan batin (penyatuan dengan Dao / Surga), dan kejahatan akan berbuah penderitaan spiritual. Di lantai satu ini, para ulama masa depan belajar tentang kerendahan hati bahwa di hadapan kematian, seluruh atribut keduniawian, gelar doktor, maupun jubah keagamaan akan luruh, menyisakan rekam jejak kebajikan yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita.

Pamit Kembali ke Istiqlal

Waktu terus bergulir, dan sore mulai membayangi kawasan Jelambar. Setelah berjam-jam menyelami samudra pemikiran Tao, menelisik arsitektur, menikmati perjamuan, hingga merenungi kematian di Rumah Abu, tibalah saatnya bagi rombongan S3 PKUMI Angkatan 7 untuk mengakhiri kunjungan lapangan yang bersejarah ini.

Dosen pengampu Prof. Ikhsan menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas keterbukaan, keramahan, dan ketulusan ilmu yang telah dibagikan oleh Taosu Agung Kusumo beserta seluruh pengurus majelis kepada para mahasiswa. Gestur jabat tangan yang erat dan sebagian merapatkan tangan di dada menjadi penutup fisik dari sebuah pertautan batin yang telah terjadi.

"Hari ini kami datang membawa secangkir rasa ingin tahu, dan kami pulang membawa seember penuh kearifan," ucap dosen pengampu saat menyampaikan kata pamitnya.

"Pintu kami selalu terbuka untuk para calon ulama yang berhati jernih. Perjalanan Anda semua adalah harapan bagi masa depan Indonesia yang damai," balas Taosu Agung Kusumo dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.

Rombongan melangkah keluar, kembali melewati pintu merah yang kini terasa bukan lagi sebagai batas pemisah, melainkan sebagai sebuah bingkai foto kenangan yang indah. Bus Kuning PKU telah menyalakan mesinnya di tepi jalan Jelambar. Pak Sopir dengan sigap membuka pintu, menyambut kembali penumpangnya yang kini tampak memiliki binar mata yang berbeda binar mata yang lebih bijaksana, kaya akan perspektif.

Bus kuning itu pun bergerak perlahan, membelah arus lalu lintas sore Jakarta, bergerak kembali menuju kawasan Masjid Istiqlal. Di dalam bus, keheningan sempat tercipta selama beberapa menit dimana masing-masing mahasiswa tampaknya sedang sibuk menata ulang struktur berpikir mereka di dalam benak, mencatat hikmah-hikmah yang berserakan, bersiap untuk melanjutkan perkuliahan formal di ruang kelas Istiqlal dengan sebuah pemahaman baru yang tak akan mereka temukan di lembaran buku manapun.

Epilog

Perjalanan mahasiswa S3 PKUMI Angkatan 7 ke Majelis Tao Indonesia di Jelambar adalah sebuah peristiwa kecil dengan gaung historis yang besar. Di tengah dunia yang kerap kali diguncang oleh polarisasi identitas dan radikalisme beragama, langkah berani para calon doktor ulama ini menunjukkan bahwa Islam di Indonesia khususnya yang dididik di bawah naungan Masjid Istiqlal adalah Islam yang percaya diri, inklusif, dan berwawasan kosmopolitan.

Kunjungan ini memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa iman yang kuat tidak akan pernah luntur hanya karena kita melangkah masuk ke dalam ruang sakral tradisi lain dan mendengarkan penjelasan mereka dengan penuh hormat. Sebaliknya, iman yang sejati justru akan menemukan peneguhannya ketika ia mampu melihat percikan-percikan cahaya kebenaran, moralitas, dan kemanusiaan yang juga tumbuh di taman-taman spiritualitas yang berbeda.

Ketika Bus Kuning PKU memasuki kembali pelataran Masjid Istiqlal yang megah, menara masjid yang menjulang tinggi seolah menyambut kepulangan anak-anak spiritualnya. Mereka kembali bukan sebagai orang yang kehilangan identitas keislamannya, melainkan sebagai ulama-ulama masa depan yang siap menjaga tenunan keindonesiaan dengan benang-benang emas toleransi, moderasi, dan kasih sayang universal (rahmatan lil 'alamin). Jelambar dan Istiqlal sore itu, melalui perantaraan langkah kaki para mahasiswa S3 ini, telah membuktikan bahwa di bawah atap langit yang sama, harmoni bukanlah sebuah utopia, melainkan sebuah realitas yang bisa dijemput melalui dialog yang tulus dan hati yang lapang.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post