Metro Heritage dan Metro Walking Tour Hidupkan Kembali Jejak Sejarah Telukbetung Lewat Historical Riding Tour

 

Bandar Lampung – Menghidupkan kembali ingatan sejarah sebuah kota tidak selalu harus melalui ruang kelas atau museum. Berangkat dari semangat tersebut, komunitas Metro Heritage dan Metro Walking Tour menggelar kegiatan Historical Riding Tour Telokbetong, kegiatan perjalanan edukatif yang mengajak peserta menyusuri jejak-jejak sejarah kawasan Telukbetung, Bandar Lampung.

Mengusung tema "Menyusuri Rute Bersejarah di Telukbetung", kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, dengan konsep close trip menggunakan kendaraan bermotor menuju sejumlah titik bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan Kota Bandar Lampung.

Tidak hanya diikuti oleh pegiat sejarah, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas, akademisi, pemerintah, media, dan masyarakat umum. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Lampung, mahasiswa Arsitektur Universitas Lampung, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Lampung, mahasiswa dan dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Raden Intan Lampung, masyarakat umum, media Lampung Geh, komunitas Lamban Lembah, Warta Sejarah, komunitas Lampongsche, komunitas Foto Antik Lampung, para pegiat sejarah Lampung, serta berbagai komunitas dan individu lainnya yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah dan warisan budaya daerah.

Aditya Nurrohman dari Metro Walking Tour menjelaskan bahwa Telukbetung dipilih karena kawasan ini merupakan embrio lahirnya Kota Bandar Lampung dan memiliki sejarah panjang. Jauh sebelum Tanjungkarang berkembang menjadi pusat perekonomian, Telukbetung telah lebih dahulu esksis dan tumbuh sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, sekaligus kawasan multikultural yang menjadi tempat bertemunya berbagai etnis.

"Sejarah kota tidak hanya tersimpan di arsip, tetapi juga hidup pada bangunan, jalan, kawasan, dan masyarakatnya. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak peserta melihat langsung bagaimana ruang kota menyimpan cerita yang luar biasa," ujarnya.

Dalam perjalanan ini peserta akan mengunjungi empat kawasan utama yang memiliki nilai sejarah tinggi, yakni Kawasan Rumah Residen Lampung, Kompleks Pemerintahan Karesidenan Lampung, Kawasan Pecinan Telukbetung, dan Kompleks Masjid Al Anwar. Di setiap titik, peserta tidak hanya diajak melihat bangunan bersejarah, peserta juga mendengarkan kisah-kisah yang melatarbelakangi terbentuknya kawasan tersebut.


Berbagai objek penting yang akan dikunjungi antara lain bekas Residenthuis, Monumen Tsunami Krakatau 1883, Gang Petojo yang pernah menjadi lokasi pabrik es tertua di Hindia Belanda, Kantor Pos Telukbetung, Lampongsche Bank, bekas Resident Kantoor, Vihara Thay Hin Bio, hingga Masjid Al Anwar yang menjadi salah satu ikon sejarah perkembangan masyarakat Telukbetung.

Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh penjelasan langsung mengenai sejarah setiap lokasi, perkembangan tata ruang kota pada masa kolonial, jejak keberagaman masyarakat Telukbetung, hingga berbagai peristiwa penting yang pernah membentuk wajah Bandar Lampung saat ini. Konsep ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual karena peserta dapat melihat langsung tinggalan sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui buku maupun arsip.

Founder Metro Walking Tour, Kian Amboro, mengatakan bahwa kegiatan ini lahir dari kegelisahan akan semakin jauhnya masyarakat dari sejarah kotanya sendiri. Menurutnya, ruang-ruang kota sesungguhnya merupakan "buku sejarah terbuka" yang dapat dibaca oleh siapa saja apabila narasinya dihidupkan kembali.

"Selama ini sejarah sering kali hanya dipahami sebagai deretan peristiwa di dalam buku. Padahal kota adalah arsip terbuka yang masih hidup. Setiap bangunan tua, setiap jalan, setiap kampung memiliki cerita yang membentuk identitas kita hari ini. Melalui Historical Riding Tour Telokbetong, kami ingin mengajak masyarakat membaca kembali kota dengan cara yang lebih dekat, lebih menyenangkan, dan lebih membumi. Ketika masyarakat mengenal sejarah ruangnya, maka kepedulian untuk menjaga warisan budaya akan tumbuh dengan sendirinya." ujar Kian Amboro.



Kegiatan ini tidak sekadar menjadi wisata sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama mengenai pentingnya pelestarian cagar budaya. Peserta diajak memahami bagaimana bangunan-bangunan bersejarah dapat menjadi sumber pengetahuan, identitas kota, sekaligus aset budaya yang perlu dijaga bersama. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat jejaring antarkomunitas, akademisi, pemerintah, media, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian sejarah lokal.

Metro Heritage dan Metro Walking Tour selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai kegiatan sejarah publik di Provinsi Lampung khususnya di Kota Metro. Melalui pendekatan heritage walk dan historical riding tour, komunitas ini berupaya mendekatkan sejarah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, dengan cara yang lebih interaktif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui Historical Riding Tour Telokbetong, Metro Heritage dan Metro Walking Tour berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal sejarah kotanya sendiri. Sebab, kota bukan hanya kumpulan bangunan dan jalan, melainkan ruang yang menyimpan memori kolektif serta identitas yang layak diwariskan kepada generasi mendatang. Kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya berbagai inisiatif pelestarian sejarah dan cagar budaya di Provinsi Lampung.

"Setiap kota punya cerita, setiap langkah punya makna."

Kolom Komentar

Previous Post Next Post