Kisah Masa Kecil Sukarno: Pernah Menangis di Malam Lebaran hingga Gagal ke Belanda

Diperbarui: April 2026
Beranda Desa

Tidak banyak yang tahu, di balik sosok besar Sukarno, pernah ada seorang anak kecil yang menangis diam-diam di malam Lebaran.

Ia bukan menangis karena dimarahi, melainkan karena hal yang sederhana—tidak mampu membeli petasan seperti anak-anak lain seusianya.

Kisah-kisah masa kecil Bung Karno ini salah satunya dituturkan langsung oleh kakak kandungnya, Sukarmini atau yang dikenal sebagai Ibu Wardoyo, dalam wawancara yang dimuat surat kabar Pustaka Antar Kota edisi 1978 di Jakarta.

Lahir di Surabaya, Berawal dari Nama Kusno

Sukarno lahir pada 6 Juni 1901 di Gang Lawang Sekateng, Peneleh, Surabaya. Ia merupakan putra dari Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Saat kecil, ia sebenarnya bernama Kusno. Namun karena sering sakit-sakitan, namanya kemudian diganti menjadi Karno—sebuah kebiasaan dalam tradisi Jawa yang dipercaya dapat membawa perubahan nasib.

Menurut Ibu Wardoyo, setelah pergantian nama tersebut, kondisi kesehatan adiknya mulai membaik.

Baca juga: Marah Pada Belanda, Bung Karno Larang Perayaan Sinterklas

Anak Biasa yang Ternyata Pemberani

Jika melihat sekilas, Karno kecil tidak tampak istimewa. Bahkan menurut penuturan kakaknya, ia hanyalah anak biasa yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tokoh besar.

Namun di balik itu, ada satu sifat yang menonjol: keberanian.

Ia dikenal sering berkelahi sejak kecil. Tidak jarang ia pulang ke rumah dengan wajah bengkak akibat perkelahian.

“Anak itu pemberani dan doyan berkelahi. Sering kali Karno pulang dengan muka bengkak-bengkak. Hebatnya, kalau berkelahi jarang kalah padahal tidak diajarkan ilmu bela diri,” tutur Ibu Wardoyo.

Keberanian ini muncul bukan tanpa sebab. Karno kecil tidak suka melihat ketidakadilan, terutama perlakuan merendahkan dari anak-anak Belanda terhadap pribumi.

 Melawan Hinaan “Anak Inlander”

Salah satu peristiwa yang paling membekas terjadi saat ia masih bersekolah.

Suatu hari, seorang anak Belanda menghina dirinya.

“Menyingkir dari jalanku, anak Inlander!”

Karno tidak tinggal diam. Ia melawan, meski sempat dipukul hingga hidungnya berdarah. Dalam kondisi itu, ia justru mengamuk dan menerjang lawannya.

Perkelahian tersebut menggemparkan seluruh sekolah.

Peristiwa ini menjadi gambaran bahwa sejak kecil, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan sudah tumbuh dalam diri Sukarno.

 Baca juga: Bung Karno dan Kisah Pertama Kalinya Menunggang Kuda

Tangisan di Malam Lebaran

Di balik keberaniannya, tersimpan kisah pilu yang sangat manusiawi.

Meski berasal dari keturunan bangsawan, kehidupan keluarga Sukarno tidak selalu berkecukupan.

Pada suatu malam Lebaran, Karno kecil hanya bisa menyendiri di kamar. Ia menangis saat mendengar suara petasan dari luar.

Ia iri melihat teman-temannya bermain, sementara orang tuanya tidak mampu membelikannya petasan.

“Dari tahun ke tahun aku sungguh berharap untuk sekali waktu bisa memasang petasan di malam Lebaran, namun tidak pernah sekalipun harapanku menjadi kenyataan,” ucap Ibu Wardoyo menirukan keluhan adiknya.

Momen ini menjadi salah satu sisi paling menyentuh dari masa kecil Bung Karno—bahwa ia pun pernah merasakan keterbatasan seperti anak-anak lain.

Impian ke Belanda yang Gagal Terwujud

Saat beranjak remaja, Sukarno memiliki cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda, sebagaimana banyak pelajar pribumi saat itu.

Namun keinginan tersebut tidak mendapat restu dari ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Dalam kisah yang dituturkan Ibu Wardoyo, terjadi perdebatan antara Karno dan ibunya. Sang ibu tidak menyukai Belanda dan menolak keinginan anaknya untuk belajar di negeri penjajah.

Ketika Karno bersikeras ingin mendapatkan ijazah dari luar negeri, sang ibu tetap pada pendiriannya—bahwa pendidikan bisa ditempuh di tanah air sendiri.

Akhirnya, impian itu harus dikubur.

Namun justru dari keputusan itulah, jalan hidup Sukarno terbentuk—menjadi tokoh pergerakan yang tumbuh dan berjuang di tanah sendiri.

Warisan Darah Pejuang

Keberanian dan jiwa nasionalisme Sukarno tidak lepas dari latar belakang keluarganya.

Dari pihak ibu, ia memiliki garis keturunan bangsawan Bali yang dikenal memiliki semangat anti penjajahan. Sementara dari pihak ayah, ia berasal dari keluarga ningrat Jawa.

Nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk karakter kuat dalam diri Sukarno.

Kisah masa kecil Sukarno membuktikan bahwa pemimpin besar tidak selalu lahir dari kehidupan yang nyaman.

Dari anak yang sering berkelahi, pernah hidup dalam keterbatasan, hingga gagal meraih impian ke luar negeri—semua itu justru menempa mentalnya menjadi sosok tangguh.

Mungkin, justru dari luka-luka kecil di masa lalu itulah lahir kekuatan besar yang mengubah sejarah bangsa.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post