Ledre Intip, jajanan tradisional khas Laweyan, Solo, yang sarat nilai sejarah dan budaya, kini mulai terlupakan, terutama di kalangan generasi muda. Menyikapi hal tersebut, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) G2 2024 menginisiasi kegiatan sosialisasi dalam rangka mempopulerkan kembali makanan khas tersebut.
Kegiatan
yang merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan ini dilaksanakan pada Sabtu
(19/04/2025) di Balai Kelurahan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Sebanyak 12
mahasiswa terlibat dalam kegiatan ini, yaitu: Yudha Auladana, Ilham Widyatama,
Aulia Faticha Achmad, Diana May Nur Khasanah, Eni Indarwati, Dea Novi Mahfiro,
Bela Ayu Melyawati, Herandi Taufik Salim, Syahrul Adhim, Muhammad Ath Thaariq
Aziizi, dan Utara Setia Nugraha.
Sebagai
perwakilan mahasiswa, Yudha Auladana menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang mendukung kegiatan ini. “Kami mengangkat tema ini karena
jajanan tradisional, terutama ledre, mulai tidak dikenal oleh anak-anak dan
remaja, khususnya generasi Z. Maka dari itu, kami berinisiatif untuk
mengenalkan kembali ledre intip khas Laweyan yang memiliki nilai historis
tinggi,” jelasnya.
Dukungan penuh juga datang dari Prof. Leo Agung S., M.Pd., selaku dosen pembimbing lapangan. “Di tengah era digital dan globalisasi, kita tetap harus menjaga nilai-nilai budaya lokal. Ledre intip adalah salah satu kekayaan budaya yang harus kita lestarikan bersama. Mari kita bangun bersama dari sekarang, agar tetap eksis hingga Indonesia Emas 2045. Siapa lagi kalau bukan kita, dan kapan lagi kalau bukan sekarang,” pesannya.
Perwakilan
dari Kelurahan Laweyan, Rianto, S.H., menyambut baik kegiatan tersebut dan
berharap dapat menjadi pemicu tumbuhnya UMKM kuliner lokal. “Kami sangat mendukung kegiatan ini
karena sejalan dengan visi kami dalam mengangkat potensi kuliner khas daerah.
Harapannya, makanan khas Laweyan bisa lebih dikenal dan menjadi kebanggaan
masyarakat,” ungkapnya.
Dari
sisi edukasi, Susila Setia Hati, S.Si., menjelaskan bahwa ledre dibuat
menggunakan bahan alami tanpa bahan pengawet. “Komposisinya antara lain beras
ketan, pisang raja, kelapa parut, dan garam. Semua bahan alami, tanpa pemanis
atau pengawet buatan,” jelasnya.
Sementara itu, Perwirawan Utama, S.Sos., selaku pelaku usaha dan pelestari ledre, menyampaikan terima kasih kepada para mahasiswa dan panitia atas terselenggaranya acara ini. Ia juga menjelaskan bahwa resep ledre intip yang digunakannya berasal dari sang ibu, Sri Martini. “Ibu saya mulai mempopulerkan ledre di kawasan Kampung Wisata Laweyan sejak 1994. Bahkan, ledre juga tercatat dalam Serat Centhini, yang menunjukkan bahwa makanan ini dulunya merupakan hidangan eksklusif dan bagian dari warisan budaya,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Qanita, yang merupakan anggota Forum Anak Laweyan, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. “Acaranya menarik. Saya jadi tahu tentang ledre dan ternyata rasanya enak sekali, tidak kalah dengan jajanan modern,” tuturnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 25 peserta, yang terdiri dari Forum Anak Laweyan, kader PKK, serta anggota Posyandu. Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPG Sejarah UNS berharap dapat menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap jajanan tradisional serta memperkuat pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Aditya Nurrohman