Barangkali sudah hampir satu tahun kegiatan menelusuri jejak sejarah di kolonisasi Sukadana dilakukan, baik secara kelompok atau kami menyebutnya Hunting History maupun individu. Kalau tidak salah ingat Hunting History pertama kali diadakan pada 1 November 2020 dengan mengunjungi empat objek bersejarah di Kota Metro, yakni Rumah Roti di Jl. Jenderal Sudirman, Rumah Kembar (Rumah Amtenar) depan Polres Metro, Klinik Santa Maria dan Rumah Dokterswoning yang keduanya kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Explorasi tempat-tempat bersejarah tidak saja dilakukan di wilayah kolonisasi Sukadana yang umumnya anggota komunitas kami berdomisili. Sabtu 23 Januari 2021 kami mantapkan hati menuju Kabupaten Pringsewu yang juga memiliki riwayat sebagai daerah kolonisasi Hindia Belanda, sepuluh tahun sebelum dibukanya kolonisasi Sukadana pada 1935.
Baca juga: Komunitas Sejarah ARSENIK Sukses Gelar Hunting History Pringsewu Area
Kegiatan seperti ini barangkali bukan hal baru, di daerah lain di Indonesia sudah banyak komunitas pegiat sejarah melakukan hal serupa. Namun bagi kami di Lampung, khususnya di Metro, satu tahun menapaki jalan ini sedikit banyak telah mengukir kisah, menggoreskan catatan di hati sanubari.
Selain bisa mengexplor situs-situs bersejarah sekaligus kisah sejarah yang menjadi bagian didalamnya, rupanya kami yang semula hanya sekelompok kecil, terdiri dari beberapa orang peminat sejarah, melebarkan sayap menjalin silaturahmi dengan sesama peminat sejarah dari penjuru daerah lainnya di Lampung. Suatu hal yang mengagetkan, ternyata masih banyak generasi saat ini yang menggeluti bidang ini, hanya saja kebanyakan dari mereka semula enggan menampakan dirinya kepermukaan, berada di jalan sepi nan sunyi.
Ibarat getaran suara, mungkin kami tengah berada dalam frekuensi yang sama. Dari konektifitas sesama peminat sejarah ini seolah-olah menyingkap tabir yang selama ini menenggelamkan gaungnya sejarah di Lampung.
Bagi saya seorang pemula yang meminati kajian sejarah, sempat tercengang manakala berkunjung kesalah satu objek sejarah. Masing-masing objek sejarah tentu menyimpan nilai sejarah, baik berupa nilai religius, kepahlawanan, toleransi, kejujuran, kerja keras dan lain-lain.
Kekaguman juga kadang muncul ketika menjumpai keseriusan para pendahulu yang mengumpulkan kepingan-kepingan sejarah lokal di Lampung. Rata-rata dari mereka hampir satu dekade mengulik kajian sejarah dan budaya Lampung. Untuk yang bagian ini akan saya ceritakan belakangan, agar supaya tidak mengurangi nilai dari hunting history itu sendiri.
Berangkat dari hobi dan visi yang sama, hunting history bisa dibilang sebagai upaya mengenalkan kepada publik atau masyarakat luas terkait dengan sejarah lokal atau sejarah yang ada di lingkungan terdekat, lingkungan sekitar, terkhusus di Lampung. Saya menganggap ini menjadi penting diupayakan karena untuk mengetahui jati diri sebuah bangsa kita harus kembali menengok sejarah bangsa itu sendiri. Barangkali sudah tidak perlu lagi dijelaskan apa bahayanya lalai terhadap sejarah, hilangnya identitas bisa jadi penyebab disintegrasi bangsa dan mungkin masih banyak hal yang bisa ditimbulkan diluar dari pengetahuan penulis.
Mungkin berasa sulit menjelaskan sesuatu hal yang didapat dari kegiatan hunting history, terutama sekali kegiatannya hanya nampak sekedar mengunjungi bangunan-bangunan tua, makam atau kuburan keramat. Kadang saya bertanya dalam hati "ini hunting history atau uji nyali" mengingat beberapa tayangan di youtube yang menjadikan bangunan tua sebagai objek yang dikaitkan dengan hal mistis.
Hari, Minggu dan Bulan begitu cepat berlalu, Hunting History yang terjauh adalah ke daerah Lampung Barat, Pesisir Barat, dan Wonosobo Tanggamus. Dan dua kegiatan Hunting History terakhir adalah napak tilas Jejak Aspirant-mantri Kamidjo Sosrosoedarmo di Metro (19/09/2021) dan Pabrik tua bekas Penggilingan Padi yang diduga sudah dibangun sejak zaman kolonisasi di Pekalongan, Rabu (20/10/2021).
Baca juga: Selusur Sejarah Pulau Pisang Lampung, Ada Lokasi Bersejarah dan Bukti Peninggalannya
Kemudian sependek pengetahuan saya, para pendahulu yang menekuni kajian sejarah dan budaya Lampung ada Arman AZ yang namanya sering dilekatkan dengan penggiat sejarah Lampung. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang ilmu sejarah atau pendidikan sejarah, waktu, tenaga dan pikirannya tercurah untuk menekuni kajian sejarah di Lampung. Bukunya yang berjudul Monograf Lampung Lampau: sejumlah catatan budaya & sejarah Lampung yang ia susun dengan jerih payah rasanya cukup melegetimasi keseriusannya mengkaji sejarah Lampung. Belum lagi tulisan-tulisannya yang lain.
Ada lagi seorang maestro Tapis, Raswan Tapis saya mengenalnya, Founder Raswan Institut. Ia ibarat salah seorang penjaga gawang budaya Lampung khususnya Tapis Lampung.
Nama Kian Amboro mungkin tidak bisa dilupakan sebagai penginisiasi terbentuknya Komunitas Pegiat Sejarah di Metro. Satu tahun bergiat ia sudah berhasil menyusun beberapa buku bertema sejarah lokal di Lampung, baik secara individu maupun keroyokan (antologi).
Itulah sekelumit kisah yang bisa saya bagi dalam mengenang 1 tahun Hunting History. Semoga geliat para peminat atau penggiat sejarah di Lampung terus konsisten menggaungkan pentingnya melestarikan warisan sejarah baik berupa benda dan warisan sejarah tak benda.
Dan berikut ini kumpulan judul artikel yang berkaitan dengan Hunting History:
- Hunting History, Upaya Menelusuri dan Mengabadikan Jejak Kolonisasi di Kota Metro
- Trimurjo Heritage Sukses Gelar Hunting History Trimurjo Area
- Awal Tahun, Komunitas Sejarah Akan Adakan Hunting History
- Rumah Berarsitektur Kolonial Dijual, Komunitas Pegiat Sejarah Metro: Selamatkan Memori Historisnya
- Gelar Hunting History Metro Area, HIMAS Sukses Gandeng Beragam Kelompok Masyarakat
- Ekspedisi Sejarah Pulau Pisang Lampung: Ada Kompleks Makam Serdadu Belanda yang Terbengkalai
- Momen Hardiknas, Trimurjo Heritage Pasang Papan Informasi Sejarah Makam KH. Arsyad
- Pegiat Sejarah Lampung Timur: Menelusuri Jejak Bermulanya Sukadana
Barnas Rasmana
